Inikah yang namanya Surga kecil yang jatuh ke Bumi?
Puisi: Jiwa Perindu Melky
Setelah persimpangan badai itu, Aku ingin berlepas diri dari segala musim, tak lagi menjadi hujan! apalagi menjadi sesuatu yang membunuh tunas-tunas baru di dadaku.
Seluruh harapan itu telah ranggas,Bersama sisa-sisa rasa yang kau bungkam. Aku ingin hidup, Aku ingin Hidup.Menghirup udara yang disuguhkan oleh semesta yang sulit kuterima, Kini Surga kecil yang jatuh ke Bumi Hanya Menjadi Nama.
Sampai akhirnya setiap duri yang menusuk kutelan ke dalam Sanubari, walaupun Rasanya teramat sakit menyesakkan jiwa, Aku Papua tetapi aku menderita.
Musim apa yang kau bawah? Badai angin, atau hanya sekadar ingin berteduh dari teriknya mentari yang menjatuhkan daun-daun bahagiamu, untuk ditukar dengan Jeritan di tubuhku? Apakah Tuhan' ku melihatku? Ya dan Amin.
Di sini tak ada hujan,Payung-payung telah dikemas oleh Sang Jendral. Berganti dengan daun-daun kering, serta ranting-ranting lapuk, yang bahkan sepotong cendawan pun enggan tumbuh, apalagi memeluk Erat alam serta penghuninya.
Tubuhku turut ranggas, Ya aku sadar itu. Aku jatuh dan rapuh! Serapuh kapas yang dengan mudahnya terempas ke tepian, Bukan lagi rumah indah yang bisa kaujadikan hunian. Aku ingin kau merasakan, Sayang ......
Agar kau dapat merasakan bagaimana aku terbakar ... Bagaimana aku merayu malam dan siang agar tetap memberiku kehidupan. Atau jika kau mau...Peluk tubuhku, dan rasakanlah getaran di dalamnya,
Agar kau percaya, bahwa aku bukanlah badai salju atau pun hujan yang kautuju Hanya sisa-sisa kehancuran dalam diri ini.
Semestinya kau ciptakan sendiri hujan atas kemarau di Duniamu Bukan mencari rintik yang bahkan setitik embun pun enggan jatuh ; apalagi menyentuh ke tubuhku.
Senyuman yang kini pudar,Tawa yang kian rendup,Hidupku mendamba air mata dalam dunia ku. Air mata ini, bukti dari kesedihan yang kini mata dan tangan ku dibungkam bolgor.
Apa semua ini Tuhanku melihatku? .!Mungkinkah ini Rencana mu? Apakah ini yang Namanya Surga kecil ?
Bambu kuning, 15 September 2023
