Pendidikan Yang Memerdekakan
![]() |
| Foto: Ist. |
Dimana hati diletakkan, disitulah proses belajar dan mengajar yang maju dimulai .Romo Mangunwijaya.
Yang pertama kali melintas di kepala saya mengenai Sekolah Dasar yang
pada umumnya di Indonesia, yaitu Gedung yang bercat merah dan cream, gerbang
sekolah dengan lapangan upacara. Tapi ketika saya datang kesana, saya
sedikit terkejut karena yang saya jumpai sama sekali berbeda dengan apa yang
saya pikirkan. Di Pinggiran jalan besar, ada plang kecil bertuliskan SDKE
Mangunan dan jalan kecil menuju kesana. Layaknya sebuah perkampungan, saya
hanya menjumpai mural di tembok rumah bertuliskan nama SD tersebut, dan
beberapa bangunan berwarna-warni, indah dan ekspresif. Dan ternyata itu adalah
ruang kelas dari SDKE Mangunan. SD yang terletak di Jalan Solo KM 12,
Mangunan Kalitirto Berbah menyewa rumah-rumah penduduk di perkampungan yang
sudah tidak terpakai dan dibuat menjadi ruangan untuk sarana kegiatan belajar
mengajar.
Sejarah awal mulanya sekolah ini berdiri adalah, karena keprihatinan
Romo Mangunwijaya, seorang biarawan dan penulis yang telah mendapat banyak
penghargaan tentang kemanusiaan baik di Indonesia maupun di dunia
international.
Beliau mengkritisi sistem pendidikan selama orde baru yang dianggapnya telah
memangkas kreativitas dan perkembangan jiwa anak didik dalam menumbuhkan
karakter pada dirinya. Romo Mangun menilai bobroknya system pendidikan
dikarenakan system pemerintahan yang berkuasa pada saat itu tidak menempatkan
hakekat pendidikan pada tujuan pendidikan itu sendiri tapi lebih kepada
berbagai kepentingan baik kepentingan politis atau kepentingan bisnis yang
menguntungkan pihak tertentu saja. Beliau menekanan, untuk memperbaiki system
pendidikan yang sudah terlanjur bobrok ini, lebih baik dimulai dari system
pendidikan dasar. Beliau menganalogikan, jika membangun rumah tapi pondasinya
tidak kuat maka rumah tersebut akan gampang rubuh. Pendidikan dasar dianggap
sebagai pondasi dalam pendidikan. Untuk itu pembenahan dilakukan mulai dari SD.
Romo Mangun membentuk Yayasan Dinamika Edukasi Dasar pada tahun 1986
untuk menyusun metode pendidikan, modul dan membina tenaga pendidik yang akan
diterapkan pada SD Eksperimental Mangunan ini. SD Mangunan ini pada awalnya
adalah SD Kanisius yang hampir ditutup karena kekurangan murid, untuk itu
pada tahun 1994 SD ini diambil alih dan digunakan Romo Mangun
mengimplementasikan metode belajar yang sudah dirumuskan oleh tim nya di
Dinamika Edukasi Dasar.
Sewaktu saya mencoba masuk dan mengikuti proses belajar di kelas –
kelas, saya merasa kaget bercampur kagum. Anak-anak SD di sini tidak memakai
seragam, dan tata ruang kelas pun benar-benar berbeda dengan kebanyakan SD di
tempat lain, yang kaku, serba terib dan seragam. Yang saya lihat malah tata
ruang ruang kelas disitu sama dengan kelas-kelas di Sekolah International yang
mana kita harus membayar puluhan sampai ratusan juta untuk bersekolah di
situ. Yang paling Nampak berbeda adalah meja dan kursi yang digunakan.
Meja dan kursi yang digunakan tidak terlalu besar dan mudah di pindah-pindah
sesuai kebutuhan belajar mengajar. Ruangan pun didominasi oleh warna-warni khas
anak-anak dan karya – karya mereka. Dan juga barang-barang yang digunakan
kebanyakan berasal dari barang – barang disekitar yang sudah tidak terpakai
yang dikreasi menjadi barang – barang yang berguna dan menarik.
Selain bentuk fisik yang dan penataan ruangan yang khas, sekolah ini
juga mempunyai metode pembelajaran yang berbeda dengan yang lain. Romo Mangun
merumuskan beberapa mata pelajaran khas, yaitu kotak pertanyaan, membaca buku
bagus, musik pendidikan dan komunikasi iman. Setiap pelajaran khas tersebut
mempunyai metode dan tujuan masing-masing. Pertama, kotak pertanyaan yaitu
kotak yang dipasang di setiap kelas yang akan menampung pertanyaan – pertanyaan
berupa keingintahuan anak-anak didik tentang apapun yang mereka jumpai. Setiap
1 minggu sekali, kotak tersebut akan dibuka dan pertanyaan – pertanyaan
anak-anak akan dibahas oleh teman – teman mereka dengan diarahkan oleh guru
mereka. Tujuan dari kotak pertanyaan itu sendiri adalah untuk menjawab rasa
keingintahuan anak didik tentang hal-hal disekitarnya. Kedua membaca buku
bagus, untuk metode ini sangat terlihat bahwa Romo Mangun ingin sekali anak
didiknya gemar membaca, maka setiap minggu dari DED memilihkan satu buku yang
bertemakan tentang kemanusiaan, pengetahuan dan tokoh-tokoh yang menginsipirasi
yang akan dibacakan oleh guru pendamping dengan melibatkan seluruh siswa, jadi
mereka seperti memainkan peran tokoh – tokoh yang ada di dalam buku, dan
setelah membaca akan ada tugas yang berhubugan dengan buku tersebut. Ketiga
adalah musik pendidikan, di dalam pelajaran ini anak akan diajarkan kecintaan
nya terhadap seni terutama musik, mereka akan membuat irama dari barang –
barang di sekitar mereka. Terakhir adalah mata pelajaran Komunikasi Iman,
sekali lagi saya menemui hal yang berbeda di sekolah ini. Di Sekolah ini tidak
diajarkan pelajaran Agama, melainkan komunikasi iman. Dalam pelajaran ini akan
diajarkan hal – hal yang membangkitkan empati dan rasa saling toleransi tanpa
harus terkotak – kotak oleh ajaran agama yang dogmatis.
Selama disana
saya melihat proses belajar mengajar yang memerdekakan anak untuk berekspresi,
bertanya tanpa rasa takut dan mempunyai empati yang tinggi terhadap sesama.
Dengan melihat metode pembelajaran diatas anak akan mempunyai karakter sesuai
yang ingin ditumbuhkan oleh sekolah ini yaitu, kreatif, komunikatif,
eksploratif dan integral. Setiap kelas terdiri dari 25 siswa, rata-rata separuh
lebih berasal dari warga sekitar, diutamakan orang miskin dan anak jalanan,
setiap kelaspun di bisa menerima 2 atau 3 anak berkebutuhan khusus. Uang
sekolah yang dibayarkan pun relative, tergantung kemampuan ekonomi anak
tersebut. Sumber belajar yang digunakan tidak jauh dari lingkungan sekitar,
seperti sungai, rel kereta api, kebun dan rumah penduduk disekitar situ.
Misalnya jika anak ingin mengetahui fungsi alat-alat dapur, maka ia pun harus
meminta ijin di rumah warga disitu untuk masuk ke dapurnya dan menanyakan
secara langsung fungsi-fungsinya. Siapapun bisa menjadi sumber belajar, seperti
yang diyakini Romo Mangun kalau semua orang adalah guru. Kesimpulan yang bisa
saya ambil selama penelitian saya, bahwa proses belajar disini benar-benar
proses belajar yang mengitkuti kemampuan tumbuh kembang anak, dengan konsep
pendidikan yang humanis, anak mendapat hak nya sebagai anak seiring dengan
pemekaran jiwanya. (Christina Arum H.)
