Kitong Ibarat Budak
| Foto: Ist. |
Sang surya mulai menuju peraduannya. Menampakan seberkas cahaya, melukis senja indah di Pantai Selatan Pulau Papua. Sore itu terlihat lalu lalang para nelayan yang sibuk menjajakan hasil tangkapannya. Banyak orang mengerumuni mereka. Saya pun mendekat, ingin memastikan dari dekat tentang apa yang terjadi. “Yang ini mas pu bagian, kalo yang tong pu bagian yang tong mo jual”, jelas salah satu nelayan. Mendengar dan melihat itu saya penasaran. Mengapa hasil tangkapan mereka di bagi dua. Kemudian diberikan secara gratis.
Dengan
rasa penasaran yang tinggi, saya bertanya, “Kenapa hasil tangkapan harus bagi
dua kasih gratis saja”, tanyaku. “Ade kitong di sini trada perahu motor dan
bensin jadi tong pake orang bugis dong punya baru tong pigi cari. Hasil
tangkapan kitong bagi tengah. Sebagian tong kasih yang punya perahu, terus yang
punya bensin terus sedikit untuk kitong. Yang kitong pu bagian itu juga harus
jual sama dorang tra bisa orang lain”, begitu penjelasannya.
Ternyata
mereka, nelayan-nelayan yang notabenenya orang asli Papua itu tidak punya fasilitas
perahu motor dan bensin terbatas. Akhirnya mereka dikerjakan sebagai buruh yang
mencari hasil laut. Keraka (kepiting), ikan dan udang. Hasil tangkapan itu
mereka bagi tengah untuk jasa perahu motor dan bensin. Sisanya untuk mereka. Itu
pun mereka jual lagi kepada pemilik bensin dan perahu motor. Mereka tidak bisa
menjual pada orang lain.
Nelayan-nelayan
itu adalah buruh yang dikerjakan oleh orang-orang bugis yang meraup keuntungan di
atas negeri mereka sendiri. Sementara masyarakat lokal yang punya gunung emas,
dana otsus dijadikan sebagai budak. Lembaga-lembaga masyarakat yang ada pun
tidak memberikan kontibusi yang postif.
Di
Tanah Papua semua bekerja untuk uang. Soal kemanusiaan itu nomor terakhir. Yang
penting bisa dapat uang dan bisa kaya cepat. Sementara matahari semakin
meredup, kembali ke peraduannya. Entah kapan sang mentari yang hadir lebih dulu
di tanah ini bisa bersinar dengan membawa senyuman bagi peduduk pribumi yang menghuninya.
Entahlah, andai sang waktu bisa menjawab. (Jhon)