SASTRA
Kawan jika begitu banyak corak warna, di dunia begitu banyak rasa.Entah kita diwarnai dan mewarnai dengan warna-warna apa. Itulah pilihan hidup. Ya..seringkali kita mendapati endingnya yang memuaskan. Namun di lain kesempatan, mimpi buruklah kenyataannya. Surga memang bukan di dunia.
Kabar Dukamu, Luka Bagiku
Rabu, 02 Agustus 2023
![]() |
| Foto: Ist. |
Tak terasa antara terbit dan tenggelamnya sang mentari. Dunia melaju dengan cepat. Tak tahu entah kemana arahnya, namun kita berada di kereta itu. Kita tak tahu akan berhenti di mana juga di mana stasiunnya. Mungkin ini misteri kehidupan atau juga mungkin takdir. Entalah...! Kita adalah manusia zaman ini. Tuhan masih bersama kita.
Kawan memori ini tak terhapus dengan lajunya kerata. Tak ada hubungannya. Momen-momen yang kita lalui begitu nampak. Setiap detik, menit juga hari. Senyummu, raut wajahmu saat ko sedang marah, nasihat-nasihatmu. Hamir semuanya tentang koi. Memang itu koi kawan. Mungkin momen-momen itu adalah coretan pena dalam buku kehidupan. Namun ko selalu ada buat tong smua. Kehadiranmu saat-saat itu sangat berguna juga sangat membantu. Ko memang pahlwan.
Sahabat sejati adalah ia yang menemanimu saat semua orang pergi menjauhimu – Walter Winchell
Perjumpaan kita hanya sebentar. Masih ingat, dunia melaju cepat. Ko lanjut kuliah di daerah lain. Kita mendapat tempat yang berbeda. Tahun lalu ko masih bilang kabarmu baik-baik melalui facebook. Sa yakin tentang itu. Sa yakin saja ko baik-baik saja disana dan sedang mempersiapkan berkas-berkas untuk ke papua. Untuk tong pu masyarakat yang sedang menanti. Tong pu masyarakat yang hitam, bodoh, miskin.Tong cinta mereka. Moyang kita sama. Hm....ko pasti mengerti itu !
Kawan sa anggap ko masih sehat. Sedang berkarya deng teman-teman barumu di kota studi. Membuat coretan-coretan di lembar-lembar berikutnya. Entahla...! Hidup memang harus dilukis. Tergantung gambar apa yang kau mau lukis. Kita berharap saja semoga yang terbaik. Ini bukan soal usia, bukan soal uang, bukan soal makan. Bukan soal itu. Ini soal kualitas lukisanmu. Kau masih ingat?
Beberapa waktu lalu, handphone ini berdering. Bukan nada panggilan, kali ini sebuah pesan singkat. Kawan darah serasa berhenti saat ku baca pesan singkat di layar handphone. Ku dengar kau telah menerbitkan buku itu. Ini bukan buku novelmu yang baru. Pesan ini mengenai coretan-ceretan di kertas kosong itu. Coretan-coretan yang kau pernah mencoretnya di setiap lembar kertas. Kini sebuah buku. Cepat sekali kau membuat itu. Namun semua pada yang Maha Kuasa. Hanya ko deng Dia yang ketahui isinya. Dia yang akan mengujimu.
Kawan ku dapat kabar dukamu. Kaulah pahlawanku. Ko sangat berguna dan su hadir dalam kehidupan. Terima kasih kawan. Memang dunia ini hanya sebentar. Buta pada usia, pada kaya dan miskin. Ia mungkin soal berapa banyak coretan kita dan apa coretan itu. Terima kasih Tuhan atas segalanya.
Kawan ku dapat kabar dukamu. Kaulah pahlawanku. Ko sangat berguna dan su hadir dalam kehidupan. Terima kasih kawan. Memang dunia ini hanya sebentar. Buta pada usia, pada kaya dan miskin. Ia mungkin soal berapa banyak coretan kita dan apa coretan itu. Terima kasih Tuhan atas segalanya.
Jhon, 22:48 Kamis, 14 November 2013.
Previous article
Next article
