BERITA FOTO
TANAH PAPUA
"Bapa Hardus desa Penulis Buku "Menjadi terang Bagi sesama, berbicara dan menjelaskan siapa sosok Diakon Octo dalam seminar bedah buku,".
"Markus Haluk Editor Buku Menjdi Terang bagi sesama, bersama para biarawati sedang menjelaskan proses pengumpulan Naskah Buku Hingga buku ini terbit,".
Berita Foto: Bedah buku menjadi terang bagi sesama, Markus Haluk, "Anak Muda Harus Menulis"
Minggu, 04 Agustus 2024
Bedah buku dengan judul, "Menjadi Terang Bagi Sesama: Mengenang Diakon Octo Malisngoran Ivakdalam," telah dilakukan di aula Ignatius paroki Kristus Terang Dunia Waena Jayapura Provins Papua, pada Sabtu 03/08/2024.
Dalam kesempatan itu, Markus Haluk yang juga editor buku mengajak agar anak muda Papua jangan sia siakan Hidup tapi mamfaatkan waktu dan kesempatan yang ada dengan belajar dan menulis.
"Zaman seperti sekarang anak muda banyak habiskan waktu dan diruang yang tidak jelas. Mereka sering tanpa sadar mengorbankan diri dan masa depan mereka. Untuk itu, kita perlu meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal positif dan menguntungkan bagi anak muda. Jadi saya mengajak anak muda untuk menulis dan menulis tentang berbagai aspek dan dinamika yang terjadi di Tanah Papua. Apa yang anda lihat dalam berbagai aspek kehidupan manusia Papua harus menulis," tegasnya.
![]() |
| "Ketua Terpilih Susan Kandaimu |
orang asli Papua pertama yang menjadi Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Ynag terpilih dalam MPA ke-XXXII pada 7-13 Juli 2024 di Merauke (kanan). dam (Kiri) Mantan ketua Presidium PMKRI Cabang Jayapura saat Menghadiri Bedah buku menjadi terang bagi sesama,, yang di gelar di aula Ignatius paroki Kristus terang dunia Waena Jayapura provins Papua, pada Sabtu (03/08/2024). Ist".
Lebih Lanjutnya, Haluk juga meminta agar ank muda harus tumbuh dibawah gereja dengan Lakukan hal hal yang positif.
"Anak muda jangan pesimis tapi harus optimis untuk bawa diri kegeraja. Sebab masa depan Gereja dan bangsa ini ada dipundak anak Muda. Gereja Kristus hadir di tanah Papua ini demi Kita, demi generasi kedepan. Maka generasi hari ini harus mengisi aktivitas yang positif, yang memberi bekal untuk masa depan," katanya.
Ia jelaskan, buku ini pihaknya tulis salah satu bentuk penghormatan Bapa Diakon Octo Walisongoran atas karya perayanannya selama 43 tahun di Tanah Papua.
"Kami menulis itu supaya semua karyanya di Tanah ini dikenang dan dihormati serta hidup di dalam diri orang Papua, didalam diri umat katolik, didalam diri generasi mudah," jelasnya
![]() |
"Peserta Bedah buku menjadi terang bagi sesama saat mengikuti Acara,".
Bahkan Haluk mengibaratkan betapa luar biasanya Diakok Octo, bukanya hanya hadir secara nyata ditengah umat tetapi juga ia menempatkan waktu untuk menulis. Alm. Diakon Octo rajin menukis dan mendokumentasikan sejarah keuskupan Jayapura secara khusus Paroki Kristus Terang Dunia dengan baik. Ini harus ditiru oleh Anak muda Papua ke depan.
"Ketika bapa melayani umat di tanah Papua mulai 1979-1996 di Wamena sebagian generasi ini belum ada belum lahir, tetapi dengan karya buku macam ini mereka akan mengenang dan menghormatinya. Mereka akan mengetahui betapa perjuangan keras yang dilakukan oleh bapa Octo di massa itu. Saya sendiri mengalami karya pelayanan Bapa Octo. Ia ditabhiskan Diakon Permanen di Paroki tempat saya lahir di Paroki Pugima pada 1991. Bapa Diakon Octo tidak pernah menolak dan menghidar dalam karya pelayanannya. Kapan dimana saja serta kepada siapa saja ia layani," ujarnya.
![]() |
Bahkan Haluk mengibaratkan betapa luar biasanya Diakok Octo, bukanya hanya hadir secara nyata ditengah umat tetapi juga ia menempatkan waktu untuk menulis. Alm. Diakon Octo rajin menukis dan mendokumentasikan sejarah keuskupan Jayapura secara khusus Paroki Kristus Terang Dunia dengan baik. Ini harus ditiru oleh Anak muda Papua ke depan.
"Ketika bapa melayani umat di tanah Papua mulai 1979-1996 di Wamena sebagian generasi ini belum ada belum lahir, tetapi dengan karya buku macam ini mereka akan mengenang dan menghormatinya. Mereka akan mengetahui betapa perjuangan keras yang dilakukan oleh bapa Octo di massa itu. Saya sendiri mengalami karya pelayanan Bapa Octo. Ia ditabhiskan Diakon Permanen di Paroki tempat saya lahir di Paroki Pugima pada 1991. Bapa Diakon Octo tidak pernah menolak dan menghidar dalam karya pelayanannya. Kapan dimana saja serta kepada siapa saja ia layani," ujarnya.
![]() |
Haluk juga mengajak agar anak muda Papua harus menjadi kompas untuk Umat dan Gereja, "generasi hari ini bagaimana hadir di tengah umat. Kita generasi muda hari ini harus hadir bawa diri di gereja, bawah diri di kombas, lingkungan, paroki hingga keuskupan," tutupnya.
Acara bedah buku ini telah menghadirkan beberapa penalis, Bapa Uskup Jayapura, Mgr. Dr. Yanuarius T.M. You, Dr. Berry Renwarin (Akademisi STFT Fajar Timur), Prof. Dr. Ave Lefaan (Akademisi UNCEN), Pastor Dr. Paul Tan Pr, Dr (Candidat), Everitus Silitubun, Hardus Desa MA, Markus Haluk (Editor dan Ketua Tim Penulisan Buku). Banyak tokoh Umat hadir dalam kegiatan ini diantaranya Mama Yosepha Alomang, Benya Rato, Stanis Dosenain, Dr. Sorfo Kocu, Korneles Siep, Pastor Vikaris Paroki Kristus Terang Dunja Waena, RD Damian Uropmabin, Ketua PMKRI Pusat, Susana F. Kandaimu. Seluruh prosesi bedah buku dipandu oleh Dr. Ina Samosir Lefaan M.Pd.
Acara Bedah Buku terlenggara atas dukungan penuh DPP Paroki KTDW, melalui Seksi Pendidikan.
Penulis Hubertus Gobai
Previous article
Next article





