Puisi: Meu Hatimu bermukim dimana?
![]() |
| Ilustrasi |
Kau datang sebagai Bunyi, setelah terasa semuanya Sunyi.
Meu mengetuk pintu hatiku, Aku sadar Meu tiba tiba masuk dalam hatiku, kau bagaikan angin tanpa aba aba, tapi aku merasakannya.
Angin menggenggamkan rasa periku, Luka itu seakan kedua telapak tangan, Aku benar benar gementar, Ketika kau masuk dalam hati tanpa permisi dN di kerjutkan duka Kepergian mu.
Kisah kita suram meu, Nabire jadi sakti, itu memang aku akui, Hatiku keras kepala Untuk mengeluarkan mu dari hati, Aku menamai Nabire itu luka.
Sekarang, Aku tak tahu lagi, Hatimu bermukim dimana, aku begitu dengar Meu punya kata hati Ku tak berdaya barangkali pula ku.
Meu, Coba lupakan tak ungkap apa apa, larikan pikiran ku melintasi lautan bebas, disana Aku menemukan dirimu, tapi kau beda dengan kemarin.
Kini, kita pisah, Aku menepi di Jayapura kau menepih dimana, berapa kuntum bunga mawar jatuh mengisi waktu di tepian danau Sentani, Kau kau adukan luka ku pada arus danau Sentani perlahan ku lupakan.
Akan ku bawah negri jadikan Pelanggi jadikan teman main ku,Ketika disebunyikan gerimis entah kenapa .
Ku tiba tiba rindu pada pelangi yang sejak lama, Gerimis mengundang senjah disitulah ipouw Merindukanmu gadis Melanesia.
Puisi Andreas Tebai
