Menyusun LKPT Interaktif di Sekolah Dasar
MENYUSUN LKPD INTERAKTIF DI
SEKOLAH DASAR
Nama- nama KELOMPOK=
ELISABET TEBAI,_ 20220100087
YUSUF RONI. BAHO,_20220100133
DOSEN PENGAMPU: BUDI KURNIA,M.Pd.
Elisabe.tebai_sd22i@nusaputra.acid
yusuf.roni_sd22i@nusaputra
budi.kurnia@nusaputra.
Abstrak
Kurangnya lembar kegiatan untuk proses pembelajaran daring mengakibatkan LKPD yang diberikan kepada peserta didik kurang maksimal sehingga mengalami kesulitan dalam mengingat.
menghasilkan LKPD interaktif berbasis REACT materi pecahan yang valid menurut ahli materi, ahli media, praktisi dan praktis menurut siswa. Penelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan Dick dan Carey. Berdasarkan hasil penelitian LKS interaktif sangat valid menurut ahli dan praktisi materi dengan persentase 94,9 persen, sangat valid menurut ahli dan praktisi media dengan persentase 94,2 persen, dan sangat praktis menurut pengguna dengan 88,5 persen. persentase. Dari prosentase yang diperoleh, produk dapat digunakan tanpa revisi. Data dianalisis dengan menggunakan Miles Huberman. Rendahnya kemampuan literasi matematis peserta didik dikarenakan media pembelajaran dan model pembelajaran yang digunakan belum dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik. Kemampuan literasi matematika dalam memecahkan masalah untuk subyek dengan kemampuan awal akademik tinggi, sedang, maupun rendah berada pada kategori sangat kurang.
KEYWOARD
Judul
Absrtak
Pendahuluan
Metode
Hasil dan pembahasan hasil
Pembahasan
Kesimpulan
Daftar pustaka
1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan upaya untuk mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi segala perkembangan zaman di era global (Nurrita, 2018; Priatna, 2018). Pemanfaatan teknologi yang semakin pesat dalam dunia pendidikan mempermudah guru dalam menyampaikan informasi kepada siswa (Anggraeni et al., 2019; Listiani & Kusuma, 2017). Dengan begitu, pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan lulusan yang berkualitas (Pereira et al., 2020; Tejedor et al., 2019). Dalam proses belajar mengajar terdapat tujuan yang ingin dicapai yaitu membangun dan mengembangkan potensi peserta didik (Cahyanovianty & Wahidin, 2021; Setyowati et al., 2020). Pendidik sebagai pemimpin dalam proses belajar mengajar diharapkan mampu mendesain pembelajaran dengan baik. Guru bertugas dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai positif bagi siswa yang akan berguna dalam kehidupannya (Nisa, 2020; Ö z, 2014). A R T I C L E I N F O Article history: Received April 22, 2022 Revised April 29, 2022 Accepted June 16, 2022 Available online July 25, 2022 Kata Kunci: LKPD Interaktif, Saintifik, ADDIE Keywords: Interactive LKPD, Scientific, ADDIE This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2022 by Author.
Published by Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, Vol. 6, No. 2, 2022, pp. 311-320 312 JPPP. P-ISSN: 1979-7109 E-ISSN:
Dengan pendidikan seseorang akan terpacu menumbuhkan kreativitasnya, yang dapat mendorong untuk berkarya, berpikir kritis, berinovasi dan berkompetensi serta meningkatkan kualitas pendidikan (Ratnaningtyas, 2016; Susanty, 2020). Pada masa pandemi covid-19 saat ini, pembelajaran yang dilakukan secara daring/jarak jauh memanfaatkan teknologi informasi sebagai media untuk pelaksanaan pembelajaran (Haka et al., 2020; Seruni et al., 2019). Guru harus bisa memanfaatan teknologi untuk mampu menghadirkan proses pembelajaran yang memberikan ruang gerak bagi peserta didik untuk mampu bereksplorasi, memudahkan interkasi antar pendidik maupun peserta didik dengan guru (Choi & Yi, 2016; Qekaj-Thaqi & Thaqi, 2021). Mengemas pembelajaran agar menarik merupakan tujuan pembelajaran agar dapat tercapai dengan maksimal (Rini & Solehah, 2021; Suma et al., 2020).
Sebagai bahan ajar segala bentuk sarana yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran berlangsung. Bahan ajar atau sering dikenal dengan media pembelajaran merupakan sebuah media yang mampu memberikan rangsangan belajar kepada peserta didik untuk bisa lebih berpikir kritis, serta mampu memberikan dorongan kepada peserta didik untuk lebih termotivasi dalam mempelajari sesuatu (Fuadati & Wilujeng, 2019; Hanik, 2020). Bahan ajar ada beberapa jenis yaitu bahan ajar langsung maupun bahan ajar yang tidak langsung. Salah satu bahan ajar langsung yaitu Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) (Apertha & Zulkardi, 2018; Firdaus & Wilujeng, 2018). Untuk melengkapi jaman yang semua sudah serba digital, keberadaan LKPD haruslah dikemas dengan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi berupa LKPD interaktif (Diella et al., 2019; Marshel & Ratnawulan, 2020; Wulandari et al., 2019). LKPD merupakan kumpulan dari lembaran yang berisikan kegiatan peserta didik yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas nyata dengan objek dan persoalan yang dipelajari (Anisa, 2017; Fuadati & Wilujeng, 2019; Khikmiyah, 2021). Selain itu juga LKPD merupakan bahan ajar cetak yang berisikan panduan dapat digunakan peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya (Prastika & Masniladevi, 2021; Rahmawati & Wulandari, 2020; Widiyanti, 2021).
LKPD juga diartikan sebagai bahan ajar yang mampu mengarahkan proses pembelajaran yang didalamnya terdapat beberapa soal latihan hingga materi pembelajaran yang mampu membimbing siswa dalam belajar yang praktis (Rahayuningsih, 2018; Rahmawati & Wulandari, 2020). LKPD berfungsi sebagai panduan belajar peserta didik dan juga memudahkan peserta didik dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran dengan menggunakan LKPD efektif meningkatkan hasil belajar, pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik (Ariani & Meutiawati, 2020; Rahayuningsih, 2018). LKPD dapat mempermudah dalam memahami materi maupun mempraktikkan percobaan baik di dalam dan luar kelas serta di rumah.
LKPD yang memanfaatkan media elektronik sering disebut sebagai LKPD interaktif. LKPD yang interaktif adalah salah satu media alternatif yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran yang terdiri dari materi dan latihan soal-soal yang digolongkan menjadi media berbasis komputer karena untuk menjalankannya diperlukan komputer yang memungkinkan peserta didik untuk meningkatkan wawasan mengenai materi pembelajaran secara mandiri (Ariani & Meutiawati, 2020; Prianoto et al., 2017). Dikatakan interaktif karena pengguna akan mengalami interaksi dan bersikap aktif, dapat melakukan perintah balik kepada pengguna untuk melakukan suatu aktivitas. Pada kurikulum 2013 banyak sekali pendekatan yang dapat digunakan salah satunya adalah pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik dilakukan melalui lima langkah pembelajaran yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan (Izzuddin, 2021).
Secara konsep pendekatan saintifik lebih mengarah pada model pendidikan humanis, yaitu pendidikan yang memberikan ruang kepada siswa untuk berkembang sesuai potensi kecerdasan yang dimilikinya. Siswa menjadi pusat belajar, tidak menjadi obyek pembelajaran sehingga karakter, keterampilan, dan kognisinya dapat berkembang secara lebih optimal (Ilhan & Ekber Gu lersoy, 2019; Kuning, 2018). Pendekatan saintifik erat kaitannya dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pendidikan IPA menekankan pada memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik dapat memahami alam sekitarnya (Nata & Putra, 2021).
IPA merupakan sebuah kegiatan atau aktivitas manusia yang mempelajari alam dan lingkungan sekitar yang dituangkan dalam proses pembelajaran (Bidayah, 2019). IPA melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan objektif serta membantu peserta didik dalam belajar memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-harinya (Annisa, N. & Simbolon, 2018). Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan proses pembelajaran yang berlangsung belum optimal, proses pembelajaran belum interaktif, inspiratif, dan kurang memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa kendala yaitu saat proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), guru belum memaksimalkan penggunaan LKPD yang menarik bagi siswa.
Sumber Belajar yang digunakan hanya buku tematik dan LKS. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan LKPD interaktif yang mampu menarik minat siswa dalam belajar sehingga siswa akan aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar walaupun pembelajaran dilakukan secara daring. Temuan penelitian sebelumnya mengatakan bahwa penerapan LKPD dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran menunjukkan hasil Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, Vol. 6, No. 2, 2022, pp. 311-320 313 N. M. Sinta Suwastini / LKPD sebagai Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Pendekatan Saintifik dalam Muatan IPA Sekolah Dasar yang sangat praktis (Rahayuningsih, 2018). Selain itu penelitian lain juga menemukan bahawa lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dikembangkan dapat dijadikan salah s
Penelitian ini mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) interaktif berbasis pendekatan saintifik pada materi ekosistem untuk siswa kelas V sekolah dasar. Kelebihan dari LKPD interaktif ini memiliki tampilan yang menarik serta mampu memotivasi siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menciptakan LKPD interaktif berbasis pendekatan saintifik dengan harapan dapat menghasilkan LKPD interaktif yang mempu menarik perhatian siswa untuk dapat meningkatkan motivasinya dalam kegiatan pembelajaran.
2. METODE
Penelitian pengembangan LKPD interaktif materi ekosistem mata pelajaran IPA di kelas V sekolah dasar ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Model ADDIE dipilih karena memiliki langkahlangkah sistematis dalam upaya pemecahan masalah belajar yang berkaitan dengan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Bagan model ADDIE ditunjukan pada Gambar
Berdasarkan Gambar 1, model ADDIE terdiri dari lima tahapan yaitu Analisis (Analyze), Perancangan (Design), Pengembangan (Development), Implementasi (Implementation), Evaluasi (Evaluation) (Agung, 2014). Tahap pertama yaitu analisis (analyze), pada tahap ini melakukan analisis KD dan Indikator yang terdapat pada materi pembelajaran, menganalisis karakter siswa melalui hasil observasi, wawancara dan diskusi bahwa siswa menyukai LKPD bergambar. atau LKPD adalah perangkat pembelajaran berupa lembaran yang berisi petunjuk tentang tugas atau pekerjaan yang harus diselesaikan oleh seorang siswa.Lembar Kerja Peserta Didik sebelumnya juga dikenal sebagai LKS (Lembar Kerja Siswa), namun sudah berubah seiring dengan diberlakukannya undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jika Anda adalah seorang guru, tentu Anda ingin membuat sebuah LKPD yang baik. Lalu, seperti apa sih format dan contoh LKPD? Apa saja hal yang perlu dipertimbangkan untuk membuat LKPD? Selengkapnya, kamu bisa simak pembahasan tentang LKPD yang ada di bawah ini.
Tujuan Pembuatan Lembar Kerja Peserta Didik
Sebuah LKPD disusun dengan tujuan sebagai berikut:
Menjadi pedoman untuk guru dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran
Membantu para peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran
Melatih keterampilan peserta didik sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan
Membantu guru dalam mengevaluasi hasil pembelajaran
Struktur Lembar Kerja Peserta Didik
Secara umum, LKPD memiliki 6 struktur penting, yaitu:
Judul kegiatan, tema, sub tema, kelas, dan semester: berisi topik pembelajaran yang akan dilaksanakan beserta identitas dari peserta didik.
Tujuan: berisi tujuan pembelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD).
Alat dan bahan: berisi daftar alat dan bahan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran.
Prosedur kerja: berisi petunjuk atau langkah-langkah yang harus ditempuh peserta didik untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tabel data: tabel kosong yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang bersifat penelitian atau pengamatan (observasi).
Bahan diskusi: berisi daftar pertanyaan yang relevan dengan kegiatan pembelajaran.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rancang bangun pengembangan LKPD Interaktif ini menampilkan kata, gambar, suara, video, materi dan soal-soal yang dikemas dalam bentuk LKPD Interaktif. LKPD Interaktif dikembangkan dengan menggunakan beberapa software diantaranya : articulate storyline, Wondershare Filmora 9 dan pendukung lainnya. Pengembangan LKPD Interaktif dalam muatan materi ekosistem pembelajaran IPA berbasis pendekatan saintifik ini berdasarkan pada model pengembangan ADDIE yang mencakup lima tahapan yaitu tahap analisis (analyze), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (development), tahap implementasi (implementation) dan tahap evaluasi (evaluation).
Hasil penilaian rancang bangun pengembangan LKPD Interaktif sudah sesuai dengan model pengembangan ADDIE. Tahap pertama yaitu analisis (analyze), melakukan analisis karakteristik dan kebutuhan peserta didik, analisis konten serta penentuan KD dan Indikator. Analisis ini memiliki tujuan untuk mengetahui informasi mengenai kebutuhan dalam proses penelitian pengembangan LKPD interaktif. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa pada saat proses pembelajaran daring banyak kesulitan-kesulitan yang ditemui. Salah satu penggunaan bahan ajar yaitu LKPD dirasakan kurang maksimal bagi peserta didik, dikarenakan sistem pembelajaran jarak jauh. LKPD yang biasanya diberikan oleh guru untuk peserta didik tidak dibuat sendiri, melainkan diambil dari buku pembelajaran. Sehingga LKPD yang diberikan oleh guru terkadang monoton dan bersifat satu arah. Selanjutnya, menganalisis konten dilakukan pemilihan materi yang sesuai dengan produk yang dikembangkan dan disesuaikan dengan analisis kebutuhan serta karakteristik peserta didik kelas VA. Materi yang dipilih untuk LKPD interaktif yaitu Ekosistem pada mata pelajaran IPA. Berdasarkan analisis konten maka dilakukan identifikasi kompetensi dasar dan indikator materi ekosistem pada mata pelajaran IPA kelas V sekolah dasar. Adapun kompetensi dasar dan indikator dapat dilihat pada
Tahap kedua yaitu perancangan (design) yang diawali dengan penentuan hardware dan software. Hardware yang digunakan dalam proses pembuatan LKPD ini meliputi handphone dan tripod. Sedangkan software yang digunakan dalam proses pembuatan LKPD ini meliputi Microsoft Word 2013, Articulate Srotyline 3, Adobe premiere pro cc 2022. Selanjutnya flowchart dibuat untuk membantu penyusunan alur isi video pembelajaran dan pembuatan stroyboard yang merupakan gambaran kasar dari produk yang dibuat. Kemudian perancangan komponen LKPD yang terdiri dari desain tampilan dan proses pembuatan video.
Tahap selanjutnya yaitu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang bertujuan untuk mengarahkan dan merancang pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan LKPD Interaktif yang dikembangkan. Dengan adanya RPP langkah-langkah kegiatan pembelajaran tersusun secara sistematis. Tahap terakhir yaitu menyusun instrumen penilaian produk berupa angket/kuesioner yang digunakan untuk mengetahui kualitas produk yang dikembangkan. Kualitas produk dinilai oleh ahli materi, desain pembelajaran dan media pembelajaran. Produk yang dikembangkan juga dinilai oleh siswa sebagai subjek uji coba dengan angket uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil. Tahap ketiga yaitu pengembangan (development), tahap ini berisi komponen serta layout LKPD yang telah terancang dikembangkan dan disusun menjadi satu dengan video yang telah dibuat dan backsound dengan software Artuculate storyline. Setelah itu produk yang telah selesai dilanjutkan dengan proses publish ke dalam google drive agar produk dapat berbentuk HTML 5. Dikarenakan HTML 5 terlalu panjang, maka diperpendek dengan software pendukung web.bitly.com. Sehingga menjadi LKPD interaktif yang disiap digunakan dalam proses pembelajaran. Langkah selanjutnya yaitu melaksanakan uji coba produk. Uji coba produk dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada para ahli yaitu ahli rancang bangun, ahli isi materi, ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran. Sedangkan, siswa melalui tahap uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil.
Uji coba perorangan dilakukan kepada 3 orang siswa yang terdiri dari siswa yang memiliki prestasi tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 9 orang siswa yang terdiri dari 3 orang siswa memiliki prestasi tinggi, 3 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, Vol. 6, No. 2, 2022, pp. 311-320 317 N. M. Sinta Suwastini / LKPD sebagai Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Pendekatan Saintifik dalam Muatan IPA Sekolah Dasar orang siswa memiliki prestasi sedang dan 3 orang siswa memiliki prestasi rendah. Adapun hasil uji kelayakan dari para ahli dan siswa yang disajikan pada Tabel 10.
Pembahasan
Produk akhir yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah LKPD interaktif berbasis pendekatan saintifik untuk peserta didik yang berada di kelas V SD No. 3 Kedonganan. Tujuan pengembangan LKPD interaktif ialah membantu memudahkan peserta didik dalam memahami materi ekosistem. Dalam proses pengembangan, LKPD interaktif ini telah melalui beberapa tahapan yaitu review ahli, uji coba serta perbaikan (revisi). Mengacu pada hasil uji kelayakan pengembangan LKPD interaktif yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualifikasi sangat baik dan baik dari hasil penilaian para ahli, uji perorangan dan uji kelompok kecil. Sehingga pengembangan LKPD interaktif dinyatakan layak diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil penilaian ahli isi materi, memperoleh kualifikasi sangat baik dengan instrumen penilaian terdiri dari tiga aspek dan empat belas butir indikator penilaian. Aspek kurikulum yang meliputi kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan materi yang disajikan. Aspek materi pembelajaran yang meliputi kebenaran materi, pentingnya materi, cakupan materi, kemenarikan dan tingkat kesulitan soal yang diberikan sudah sesuai. Aspek kebahasaan yang meliputi penggunaan bahasa pada produk LKPD interaktif sudah sesuai dengan karakteristik siswa dan kaidah Bahasa Indonesia. Pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila pembelajaran mampu membantu peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
Terkait antara kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, sajian materi dan penggunaan bahasa dapat memudahkan guru maupun peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan materi yang disusun secara terstruktur dan sesuai dapat mempermudah peserta didik dalam memahami materi secara mandiri esuai dengan tingkat pengetahuannya tanpa bimbingan orang lain, hal itu berdampak positif terhadap hasil belajar serta pemahaman siswa terhadap konsep materi (Diella et al., 2019).
Berdasarkan hasil penilaian ahli desain pembelajaran, memperoleh kualifikasi sangat baik dengan instrumen penilaian ahli desain pembelajaran ini terdiri dari tiga aspek dan sebelas butir indikator penilaian. Aspek tujuan pembelajaran sudah memuat ABCD (audience, behavior, condition, degree), dan disajikan dengan jelas sesuai indikator pencapaian kompetensi. Aspek evaluasi yang meliputi aspek motivasi dan umpan balik yang diperoleh peserta didik sudah sesuai dan terpenuhi dari sajian soal latihan yang bervariasi dan peserta didik cepat mendapatkan umpan balik.
Aspek strategi pembelajaran yang meliputi keruntutan tahapan pembelajaran, memuat contoh-contoh nyata, tersedianya petunjuk pengerjaan LKPD, kelengkapan struktur LKPD, kejelasan langkah-langkah pembelajaran sudah terpenuhi serta sudah sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat juga menjadi alasan produk LKPD interaktif ini dari segi desain pembelajaran memperoleh hasil sangat baik. Hal ini sejala dengan pendapat penelitian sebelumnya yang menyatakan pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dapat mengembangkan potensi peserta didik
secara optimal (Prianoto et al., 2017). Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan langkah yang tepat untuk menuntun peserta didik melaksanakan kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan mencari tahu dan menemukan sebuah. Dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran yang sesuai adalah desain pembelajaran yang dipersiapkan secara matang dengan langkah-langkah yang sistematis yang dapat membantu peserta didik dalam menemukan suatu konsep apabila dilaksanakan secara teratur (Widodo et al., 2020).
Berdasarkan hasil penilaian ahli media pembelajaran, memperoleh kualifikasi baik dengan instrumen yang digunakan dalam penilaian ini terdiri dari dua aspek dan tujuh belas butir indikator penilaian. Aspek desain cover yang meliputi kemenarikan, keterbacaan, warna dan ilustrasi yang digunakan serasi dan telah terpenuhi. Aspek tampilan isi LKPD yang meliputi kejelasan tulisan, kesesuaian warna, kejelasan suara, kombinasi tulisan, gambar dan video, tata letak dan sajian yang interaktif sudah terpenuhi. Proses pembelajaran yang menggunakan bahan ajar interaktif dapat memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar peserta didik. Sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa pembelajaran yang menggunakan banyak sumber belajar seperti LKPD interaktif yang menggunakan gabungan berbagai media seperti teks, gambar, audio, video dan ilustrasi dapat menyebabkan suasana belajar menjadi tidak membosankan (Qekaj-Thaqi & Thaqi, 2021).
Belajar yang hanya menggunakan sumber dari buku mengakibatkan peserta didik bosan dan jenuh sehingga pembelajaran menjadi tidak efektif. Dapat disimpulkan bahwa LKPD yang dikemas dengan interaktif dengan menggabungkan berbagai media dapat menimbulkan suasana belajar yang tidak membosankan, menyenangkan dan memberikan pengaruh positif pada peserta didik dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil penilaian uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil, memperoleh kualifikasi sangat baik dengan instrumen yang digunakan dalam penilaian ini terdiri dari empat aspek dan sebelas butir indikator penilaian.
Aspek desain tampilan yang meliputi kemenarikan, keterbacaan, warna dan ilustrasi yang digunakan serasi dan telah terpenuhi. Aspek materi isi LKPD yang meliputi kejelasan tulisan, kesesuaian warna, kejelasan suara, kombinasi tulisan, gambar dan video, tata letak dan sajian yang interaktif sudah terpenuhi. Aspek motivasi yang meliputi LKPD membangkitkan semangat belajar, nilai/skor dapat diperoleh dengan cepat. Aspek pengoperasian meliputi LKPD mudah digunakan. Hasil penilaian dari uji coba perorangan dan uji kelompok kecil dapat dikatakan sangat layak, sehingga dapat diterapkan untuk siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kelebihan dari LKPD interaktif adalah LKPD ini bersifat interaktif, memiliki tampilan yang menarik, umpan balik yang dirasakan peserta didik sangat cepat dan tentunya dapat memotivasi peserta didik dalam mengerjakan.
Kelebihan dari LKPD interaktif ini telah dibuktikan melalui hasil uji kelayakan produk yang memperoleh kualifikasi sangat baik dan baik. Implikasi dari penelitian ini adalah teknologi yang terus menerus berkembang menyebabkan bahan ajar yang diberikan guru kepada peserta didik juga harus berkembang, sehingga keberadaan LKPD yang sifatnya interaktif dengan memanfaatkan teknologi perlu agar peserta didik melek teknologi. Penggunaan langkah-langkah pendekatan saintifik menjadikan proses kegiatan pembelajaran dalam LKPD lebih menarik dan dapat membantu peserta didik dalam memaknai setiap pembelajaran ekosistem sehingga peserta didik lebih mudah memahaminya. Selain itu juga, LKPD interaktif berbasis pendekatan saintifik terbukti secara empiris layak digunakan untuk kegiatan pembelajaran karena memiliki kualifikasi baik dan sangat baik dari hasil uji coba, lebih menarik dan memperoleh komentar positif dari peserta didik.
4.KESIMPULAN
Tahap selanjutnya yaitu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang bertujuan untuk mengarahkan dan merancang pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan LKPD Interaktif yang dikembangkan. Dengan adanya RPP langkah-langkah kegiatan pembelajaran tersusun secara sistematis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (development research). Pengembangan produk dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu analysis (menganalisis), design (mendesain), development (mengembangkan), implementation (melaksanakan) dan evaluation (evaluasi). Kevalidan LKPD interaktif dilihat dari hasil validasi yang dilakukan oleh ahli materi, pedagogik dan media. Skor rata-rata hasil validasi materi sebesar 4,75 termasuk dalam kategori sangat valid. Kevalidan pedagogik 4,60 termasuk dalam kategori sangat valid dan kevalidan media 4,00 termasuk dalam kategori valid. Kepraktisan LKPD interaktif dilihat dari nilai rata-rata angket pada tahap one to one evaluation dan small group evaluation sebesar 4,00 (praktis) dan 4,29 (sangat praktis). Efektivitas dilihat dari tes hasil belajar yang dilakukan pada tahap field test. Rata-rata N-gainnya diperoleh sebesar 0,59 yang termasuk dalam kriteria sedang dan diperoleh rerata keaktifan siswa pada pertemuan pertama sebesar 77.41% sedangkan pada pertemuan kedua sebesar 85.93% yang dikategorikan aktif
5. DAFTAR PUSTAKA
Agung, A. A. G. (2014). Buku Ajar Metodelogi Penelitian Pendidikan. Aditya Media Publishing. Anggraeni, H., Fauziyah, Y., & Fahyuni, E. F. (2019). Penguatan Blended Learning Berbasis Literasi Digital Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Al-Idarah : Jurnal Kependidikan Islam, 9(2), 190–203.
https://doi.org/10.24042/alidarah.v9i2.5168Aqib, Z., Jaiyaroh, S., Diniati E., dan Khotimah, K. 2014. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB dan TK. Bandung: Yrama Widya. Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Puskur. Dewi, P. F. 2010. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Interaktif pada Pelajaran Kimia Pokok Bahasan Hidrokarbon di SMA Negeri 5 Palembang. Skripsi. Palembang: FKIP Universitas Sriwijaya. Hake, R. R., 2000. Is it Finally Time to Implement Curriculum S? AAPT Announcer, 30 (4): 9 Guntoro, H. 2014. Perbandingan Implementasi Media Pembelajaran Ispring Suite dengan Courselab untuk Meningkatkan Hasil Siswa dalam Penerapan Konsep Dasar Listrik dan.
https://ojs.unm.ac.id/semnaslpm/article/download/11888/7003#:~:text=Menurut%20Prastowo%20(2014)%2C%20langkah,(7)%20menyusun%20materi%2C%20dan
https://scholar.google.com/scholar?oi=bibs&cluster=1086440855307929312&btnI=1&hl=id
.png)