Jhon NR Gobai Memaknai Filosofi hidup Sagu, Sampan dan Sungai
Jayapura, (KATUAITV)- Anggota dewan perwakilan rakyat (DPR Papua) Jhon NR Gobai Mengatakan, Filosofi Sagu, Sampan dan Sungai haruslah menjadi landasan membangun perpangkalan budaya dalam melakukan pembangunan di wilayah ini, bukan membuat mereka keluar dari perpangkalan budayanya, bila membangun perumahan yang bagus dekat sungai dan dekat kebun sagu tentu dirumah itulah mereka akan menaruh sampan mereka.
"Disitulah dibangun sekolah, kios, balai pendidikan, polik klinik,dll artinya kita membangun mulai dari perpangkalan budaya, kata Gobai dalam liris pers yang di terima katuaitv.com pada (6/12/2023).
Gobai Mengatakan beberapa daerah di Papua filosofi hidupnya 3 (tiga) S yaitu Sagu, Sampan dan Sungai ( 3S)
"Orang Asmat, Orang Sempan dan orang Mimika itu filosofi hidupnya 3 (tiga) S yaitu Sagu, Sampan dan Sungai ( 3S," katanya.
Berikut adalah penjelasan Gobai tentang filosofi hidupnya 3 (tiga) S yaitu Sagu, Sampan dan Sungai ( 3S)
1. Sampan
Sagu itu makanan mereka, kemudian sampan itu perahu dan juga sungai adalah tempat hidup mereka.
Sampan (perahu tradisional) digunakan sebagai alat transportasi, penyambung komunikasi antarpulau, untuk ritual adat ketika penguburan mayat, alat berdagang dan barter, serta untuk mencari makanan di laut dan sungai.
Sekarang, perahu sampan kurang lagi terlihat karena sungai mengalami sedimentasi akibat pembuangan tailing Freeport, sehingga sungai menjadi kering.
2. Sungai
Sungai bagi Suku Asmat, Sempan dan Mimika adalah medium transportasi juga sebagai lokus pemenuhan sumber kehidupan.
Mereka bergantung terhadap sungai karena di situlah mereka mencari dan mengumpulkan makanan pokok seperti kepiting, ikan, tambelo, udang, dan soa-soa.
3. Sagu
Lalu, sagu adalah makanan pokok tradisional Suku asmat, Sempan dan
Mimika tetapi sejak Freeport membuang limbah ke Sungai Ajkwa/Wanogong, pohon-pohon sagu mengering dan menjadi sulit untuk memperoleh sagu.
Saat ini, masyarakat harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan makanan pokok mereka yaitu sagu.
Dengan terpaksa, masyarakat menggunakan perahu-perahu kecil melewati jalur laut.
Sedangkan, jalur ini berbahaya, selama 2011-2023 kecelakaan laut terus meningkat.
Filosofi Sagu, Sampan dan Sungai haruslah menjadi landasan membangun perpangkalan budaya dalam melakukan pembangunan di wilayah ini, bukan membuat mereka keluar dari perpangkalan budayanya, bila membangun perumahan yang bagus dekat sungai dan dekat kebun sagu tentu dirumah itulah mereka akan menaruh sampan mereka.
Disitulah dibangun sekolah, kios, balai pendidikan, polik klinik,dll artinya kita membangun mulai dari perpangkalan budaya.
(KM/Red)
.jpg)