Puisi - Kesedihan


 Yogie

 Luka di jalan-jalan nestapa;

Kepercayaan membawa aku pada luka, luka yang tertera dalam jiwa, terbungkus dalam sangkar derita dan pada akhirnya kau dan aku hanyalah cerita .

Mencoba berlari untuk menemukan pelangi, namun tak kunjung sampai. Hujan telah turun dan menguyur pada lentera hati.

Nada-nada cinta tak pernah terlihat, semua terbuang pada muara yang tak kunjung surut. Aliran-aliran luka menemukan catatan kisah, yang telah di bumbui lara yang penuh perih.

 Masih dengan genangan air mata;

Ku masih terbesu pada puing-puing yang terbawa arus. Melihat dengan mata yang kendur, buyar yang akhirnya tersangkut pada sebuah tangkai bernama ketiga.

Tibalah aku pada waktu untuk mengiklaskan pada tangkai yang lugu, menghapus jejak-jejak kisah pada sebuah dinding di ruang sepih.

Hening pada bayang-bayang luka, masih pada jalan-jalan nestapa. Sedari cinta yang hilang pada pertengahan musim kemarau dan menghajutkan pula puing-puing peristiwa.


 Dan pada akhirnya aku mengakuri;

Tak ada yang abadi, yang abadi hanya waktu. Jika tangkai telah menjadi rumah barumu, biarkan centramata ini ku kubur dalam bentuk nestapa. Dalam pusaran yang tak bernama.

Pada akhirnya, musim kemarau telah berhenti dan hujan kembali guyur dan menghanjutkan serpihan-serpihan cerita pada puing-puing kenangan. Dan, akhirnya aku mengakuri.

Bratang Gede 2023


 

Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel