Sosok Gede Andika, Inspioratif Edukasi Bahasa dan Lingkungan dari Bali
![]() |
| Edukasi oleh Gede Andika kepada anak-anak. Sumber: idntimes.com |
Setelah
menyelesaikan studinya selama lima tahun di Universitas Udayana, Gede Andika
pulang ke kampung halamannya di desa Pemuteran, Buleleng, Bali pada Maret 2020.
Ia mengamati banyak warga sekitar rumahnya tak memiliki pekerjaan karena
terdampak pandemik. Beruntung, pekerjaannya saat itu memungkinkannya untuk
dilakukan dari rumah sehingga ia bisa work from home dengan
leluasa. Tak hanya itu, Gede Andika juga menyadari bahwa proses belajar
mengajar yang biasanya dilakukan di sekolah kini sudah dilakukan secara daring
atau online dari rumah masing-masing.
Meski sudah
mendapat kebijakan untuk sekolah secara daring, pada kenyataannya tak semua
siswa mampu untuk melakukannya. Sebagian besar orangtua siswa tak memiliki uang
untuk membeli kuota internet sehingga anak-anak mereka terpaksa membolos dan
bahkan ikut orangtuanya bekerja di pantai.
Berawal dari
kekhawatiran akan tak tersalurkannya hak untuk memperoleh pendidikan inilah,
Gede Andika memiliki ide untuk membuka kelas belajar bahasa Inggris bersama
bernama KREDIBALI.
Melalui
Program KREDIBALI (Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan), Andika
menggabungkan dua konsep, yaitu bahasa inggris dan lingkungan. Anak-anak yang
tergabung dalam program ini akan memperoleh pembelajaran bahasa inggris secara
gratis dengan syarat membawa sampah plastik yang telah dipilah. Program inilah
yang menghantarkan Andika berhasil memperoleh penghargaan SATU Indonesia Awards
2021 dari Astra Internasional pada kategori Pejuang Tanpa Pamrih.
Terdapat
tiga literasi yang ditanamkan pada program KREDIBALI, meliputi edukasi bahasa
inggris, edukasi lingkungan, dan edukasi sosial. Dalam program ini, anak-anak
tidak hanya diberikan edukasi bahasa inggris, tetapi juga edukasi lingkungan,
terutama sampah plastik yang memiliki nilai jual. Sampah plastik yang berperan
sebagai alat tukar pada proses pembelajaran dalam program KREDIBALI akan dijual
pada lembaga swadaya di Bali dan ditukarkan berupa beras, yang kemudian akan
disalurkan kepada lansia-lansia yang membutuhkan.
KREDIBALI
merupakan program di bawah naungan Jejak Literasi Bali (JLB) yang digagas oleh
Gede Andika pada Mei 2020. Program ini digagas lantaran Andika melihat
permasalahan yang timbul akibat COVID-19 yang menyebabkan restriksi di berbagai
aspek. Desa Pemuteran – Desa asal Andika – menjadi terdampak karena turunnya
kunjungan wisatawan lokal maupun asing akibat masifnya sebaran virus. Melihat
kondisi tersebut, Andika kemudian menginisiasi program KREDIBALI dengan
memberikan edukasi bahasa inggris berbasis lingkungan guna meningkatkan
kemampuan bahasa inggris anak-anak sekitar. Hal ini dilakukan terlebih Desa
Pemuteran merupakan desa wisata yang sebelum merebaknya pandemi, banyak
terdapat kunjungan wisatawan. Melalui edukasi bahasa inggris, anak-anak yang berada
di sekitar dapat menguasai bahasa global, yaitu bahasa inggris.
Inspiratif
Respons Pandemik dengan Belajar dan Beramal
Sesaat
setelah pemerintah mengumumkan pembelajaran daring atau jarak jauh, aktivitas
belajar mengajar di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali, seakan mati.
Alih-alih mengikuti kelas daring sesuai yang diinstruksikan pemerintah,
anak-anak di pelosok Bali itu justru memilih pergi ke laut membantu orang tua.
Bukan, bukan
karena malas belajar. Mereka tidak memiliki piranti untuk belajar online,
seperti smartphone atau laptop. Seandainya punya pun, mereka tidak bisa membeli
kuota untuk belajar, karena kondisi ekonomi juga terpuruk akibat pandemik.
Di luar
ketersediaan perangkat, keterbatasan sumber daya manusia di desa tersebut,
juga cukup memprihatinkan. Rata-rata orang tua di Desa Pemuteran hanyalah
lulusan SD atau bahkan Sekolah Rakyat zaman Belanda.
Belum lagi
fakta bahwa Buleleng menjadi kabupaten dengan angka anak putus sekolahnya yang
tinggi, membuat pria kelahiran Buleleng itu tidak sampai hati untuk membiarkan
anak-anak usia dini ini tak belajar dan mendapatkan pendidikan yang seharusnya
ia dapatkan, hanya karena pandemik COVID-19.
Kompleksnya
masalah di Desa Pemuteran akibat pandemik, memaksa Gede Andika memutar otak
untuk mencarikan solusi konkret yang benar-benar dibutuhkan desa tersebut.
Belajar dan beramal adalah gagasan epic yang akhirnya ia
kolaborasikan sebagai upaya meminimalisasi dampak pandemik.
Dalam sektor
pendidikan, ia memfasilitasi anak-anak yang tak terjangkau kelas daring dengan
kelas bahasa Inggris secara tatap muka setiap minggunya---tanpa meninggalkan
protokol kesehatan yang berlaku, yaitu mencuci tangan, menggunakan masker,
menjaga jarak, dan membatasi jumlah orang dalam kelas.
Sementara
dalam sektor ekonomi, ia mengenalkan anak-anak belajar tentang literasi
lingkungan, terutama tentang sampah plastik. Strategi ini ia adopsi sebagai
upaya untuk mengurangi sampah plastik, mengurangi pembakaran sampah di Desa
Pemuteran, serta menghasilkan sesuatu yang berharga dari barang yang dianggap
tak berharga.
Anak-anak di
KREDIBALI diajak untuk mengumpulkan sampah plastik dari rumah
masing-masing, memilahnya, dan menukarnya dengan beras di lembaga NGO bank
sampah, Plastic Exchange. Nantinya, beras ini akan dibagikan kepada
lansia-lansia tidak mampu di Desa Pemuteran untuk membantu memenuhi kebutuhan
pokok mereka.
Anak
Sebagai Agen Perubahan
Setahun
lebih berjalan, KREDIBALI telah menorehkan pencapaian luar biasa yang nyata.
Tak hanya peningkatan kemampuan bahasa inggris anak-anak di Desa Pemuteran,
mereka juga menjadi lebih paham tentang isu-isu lingkungan dan sosial di
sekitarnya.
Ia mengakui
bahwa mengedukasi orang tua lintas generasi, memang jauh lebih sulit.
Mangkanya, melalui pendidikan anak-anak usia dini ini, diharapkan mereka mampu
menjadi agent of change atau agen perubahan mulai dari rumah
masing-masing.
Ia juga
menuturkan bahwa berkat KREDIBALI, tren di rumah sekarang terbalik. Di mana
kini anak-anak yang mengedukasi orang tua. Ini sebagai bukti bahwa program
edukasi dan literasi ini ‘nyampe’, baik ke siswa maupun orang tua.
“Mister saya
kadang-kadang malu lho, kalo misalkan anak-anak saya bilang kayag, pak kalau
sampah ini taruhnya di sini dong, kan kita sudah punya tempat sampah botol,
tempat sampah kemasan, tempat sampah kantong plastik dan sebagainya”. jelasnya
menirukan pengakuan orang tua terhadap perubahan positif anak-anaknya di
KREDIBALI.
Tak harus
dengan langkah besar untuk menginspirasi. Ketika hal-hal kecil di sekitar kita
bisa diupayakan, kenapa tidak kita lakukan? Tersenyumlah Indonesia, teruslah
menjadi agen inspiratif dan inovatif.
Selama masa pandemi COVID-19, aktivitas pendidikan
dilakukan secara daring atau online dari tempat tinggal masing-masing untuk
mencegah penyebaran virus COVID-19. Di tengah pandemi pemerintah telah
menetapkan kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah dan tinggal di rumah
hingga pandemi mereda.
Tak hanya di
aspek pendidikan, pandemik juga berdampak ke berbagai aspek kehidupan seperti
ekonomi dan pariwisata. Di sektor ekonomi, pandemik membuat sebagian besar
orang kehilangan pekerjaannya dan mau tak mau harus di rumah karena pekerjaan
mereka tak memungkinkan untuk dilakukan dari rumah. Terlebih di daerah yang
pariwisatanya cukup maju seperti Bali, pandemik begitu menghantam keras ke
semua warganya.
Sumber
Berita
Report:
Hubertus Gobai
