Sosok Gede Andika, Inspioratif Edukasi Bahasa dan Lingkungan dari Bali

Edukasi oleh Gede Andika kepada anak-anak. Sumber: idntimes.com

Gede Andika, Asal buleleng Berada di nomor 8 sebagai PENERIMA SATU INDONESIA AWARDS dari astra.  Asal Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. KREDIBALI (KREASI EDUKASI BAHASA DAN LINGKUNGAN) Denganm Kategori Pejuang Tanpa Pamrih Di Masa Pandemi COVID19. Muda, berprestasi, dan aktif dalam kegiatan sosial, begitulah sosok Gede Andika Wira Teja, pemuda inspiratif asal Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. Lulusan Magister Ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berhasil menggiatkan program Kelas Bahasa Inggris bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bali.

Setelah menyelesaikan studinya selama lima tahun di Universitas Udayana, Gede Andika pulang ke kampung halamannya di desa Pemuteran, Buleleng, Bali pada Maret 2020. Ia mengamati banyak warga sekitar rumahnya tak memiliki pekerjaan karena terdampak pandemik. Beruntung, pekerjaannya saat itu memungkinkannya untuk dilakukan dari rumah sehingga ia bisa work from home dengan leluasa. Tak hanya itu, Gede Andika juga menyadari bahwa proses belajar mengajar yang biasanya dilakukan di sekolah kini sudah dilakukan secara daring atau online dari rumah masing-masing. 

Meski sudah mendapat kebijakan untuk sekolah secara daring, pada kenyataannya tak semua siswa mampu untuk melakukannya. Sebagian besar orangtua siswa tak memiliki uang untuk membeli kuota internet sehingga anak-anak mereka terpaksa membolos dan bahkan ikut orangtuanya bekerja di pantai.

Berawal dari kekhawatiran akan tak tersalurkannya hak untuk memperoleh pendidikan inilah, Gede Andika memiliki ide untuk membuka kelas belajar bahasa Inggris bersama bernama KREDIBALI. 

 

Melalui Program KREDIBALI (Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan), Andika menggabungkan dua konsep, yaitu bahasa inggris dan lingkungan. Anak-anak yang tergabung dalam program ini akan memperoleh pembelajaran bahasa inggris secara gratis dengan syarat membawa sampah plastik yang telah dipilah. Program inilah yang menghantarkan Andika berhasil memperoleh penghargaan SATU Indonesia Awards 2021 dari Astra Internasional pada kategori Pejuang Tanpa Pamrih.

Terdapat tiga literasi yang ditanamkan pada program KREDIBALI, meliputi edukasi bahasa inggris, edukasi lingkungan, dan edukasi sosial. Dalam program ini, anak-anak tidak hanya diberikan edukasi bahasa inggris, tetapi juga edukasi lingkungan, terutama sampah plastik yang memiliki nilai jual. Sampah plastik yang berperan sebagai alat tukar pada proses pembelajaran dalam program KREDIBALI akan dijual pada lembaga swadaya di Bali dan ditukarkan berupa beras, yang kemudian akan disalurkan kepada lansia-lansia yang membutuhkan.

KREDIBALI merupakan program di bawah naungan Jejak Literasi Bali (JLB) yang digagas oleh Gede Andika pada Mei 2020. Program ini digagas lantaran Andika melihat permasalahan yang timbul akibat COVID-19 yang menyebabkan restriksi di berbagai aspek. Desa Pemuteran – Desa asal Andika – menjadi terdampak karena turunnya kunjungan wisatawan lokal maupun asing akibat masifnya sebaran virus. Melihat kondisi tersebut, Andika kemudian menginisiasi program KREDIBALI dengan memberikan edukasi bahasa inggris berbasis lingkungan guna meningkatkan kemampuan bahasa inggris anak-anak sekitar. Hal ini dilakukan terlebih Desa Pemuteran merupakan desa wisata yang sebelum merebaknya pandemi, banyak terdapat kunjungan wisatawan. Melalui edukasi bahasa inggris, anak-anak yang berada di sekitar dapat menguasai bahasa global, yaitu bahasa inggris.

Inspiratif Respons Pandemik dengan Belajar dan Beramal

Sesaat setelah pemerintah mengumumkan pembelajaran daring atau jarak jauh, aktivitas belajar mengajar di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali, seakan mati. Alih-alih mengikuti kelas daring sesuai yang diinstruksikan pemerintah, anak-anak di pelosok Bali itu justru memilih pergi ke laut membantu orang tua.

Bukan, bukan karena malas belajar. Mereka tidak memiliki piranti untuk belajar online, seperti smartphone atau laptop. Seandainya punya pun, mereka tidak bisa membeli kuota untuk belajar, karena kondisi ekonomi juga terpuruk akibat pandemik.

Di luar ketersediaan perangkat, keterbatasan sumber daya manusia di desa tersebut, juga cukup memprihatinkan. Rata-rata orang tua di Desa Pemuteran hanyalah lulusan SD atau bahkan Sekolah Rakyat zaman Belanda.

Belum lagi fakta bahwa Buleleng menjadi kabupaten dengan angka anak putus sekolahnya yang tinggi, membuat pria kelahiran Buleleng itu tidak sampai hati untuk membiarkan anak-anak usia dini ini tak belajar dan mendapatkan pendidikan yang seharusnya ia dapatkan, hanya karena pandemik COVID-19.

 

Kompleksnya masalah di Desa Pemuteran akibat pandemik, memaksa Gede Andika memutar otak untuk mencarikan solusi konkret yang benar-benar dibutuhkan desa tersebut. Belajar dan beramal adalah gagasan epic yang akhirnya ia kolaborasikan sebagai upaya meminimalisasi dampak pandemik.

Dalam sektor pendidikan, ia memfasilitasi anak-anak yang tak terjangkau kelas daring dengan kelas bahasa Inggris secara tatap muka setiap minggunya---tanpa meninggalkan protokol kesehatan yang berlaku, yaitu mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, dan membatasi jumlah orang dalam kelas.

Sementara dalam sektor ekonomi, ia mengenalkan anak-anak belajar tentang literasi lingkungan, terutama tentang sampah plastik. Strategi ini ia adopsi sebagai upaya untuk mengurangi sampah plastik, mengurangi pembakaran sampah di Desa Pemuteran, serta menghasilkan sesuatu yang berharga dari barang yang dianggap tak berharga.

Anak-anak di KREDIBALI diajak untuk mengumpulkan sampah plastik dari rumah masing-masing, memilahnya, dan menukarnya dengan beras di lembaga NGO bank sampah, Plastic Exchange. Nantinya, beras ini akan dibagikan kepada lansia-lansia tidak mampu di Desa Pemuteran untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Anak Sebagai Agen Perubahan

Setahun lebih berjalan, KREDIBALI telah menorehkan pencapaian luar biasa yang nyata. Tak hanya peningkatan kemampuan bahasa inggris anak-anak di Desa Pemuteran, mereka juga menjadi lebih paham tentang isu-isu lingkungan dan sosial di sekitarnya.

Ia mengakui bahwa mengedukasi orang tua lintas generasi, memang jauh lebih sulit. Mangkanya, melalui pendidikan anak-anak usia dini ini, diharapkan mereka mampu menjadi agent of change atau agen perubahan mulai dari rumah masing-masing.

Ia juga menuturkan bahwa berkat KREDIBALI, tren di rumah sekarang terbalik. Di mana kini anak-anak yang mengedukasi orang tua. Ini sebagai bukti bahwa program edukasi dan literasi ini ‘nyampe’, baik ke siswa maupun orang tua.

“Mister saya kadang-kadang malu lho, kalo misalkan anak-anak saya bilang kayag, pak kalau sampah ini taruhnya di sini dong, kan kita sudah punya tempat sampah botol, tempat sampah kemasan, tempat sampah kantong plastik dan sebagainya”. jelasnya menirukan pengakuan orang tua terhadap perubahan positif anak-anaknya di KREDIBALI.

Tak harus dengan langkah besar untuk menginspirasi. Ketika hal-hal kecil di sekitar kita bisa diupayakan, kenapa tidak kita lakukan? Tersenyumlah Indonesia, teruslah menjadi agen inspiratif dan inovatif.

Selama  masa pandemi COVID-19, aktivitas pendidikan dilakukan secara daring atau online dari tempat tinggal masing-masing untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Di tengah pandemi  pemerintah telah menetapkan kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah dan tinggal di rumah hingga pandemi mereda.

Tak hanya di aspek pendidikan, pandemik juga berdampak ke berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi dan pariwisata. Di sektor ekonomi, pandemik membuat sebagian besar orang kehilangan pekerjaannya dan mau tak mau harus di rumah karena pekerjaan mereka tak memungkinkan untuk dilakukan dari rumah. Terlebih di daerah yang pariwisatanya cukup maju seperti Bali, pandemik begitu menghantam keras ke semua warganya.

 

Sumber Berita

Report: Hubertus Gobai

Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel