Yune Angel Rumateray Berikan Bukti cinta melalui pendidikan Alam di Papua
Oleh Yulianus Magai
Jayapura, (KATUAITV) Sekolah Alam Paradise hadir di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan untuk memajukan dan meningkatkan literasi anak-anak asli Papua khusus nya di Kabupaten Merauke. Penerima Apresiasi Tingkat Provinsi 2022 urutan ke 64 mewakili provinsi Papua Yang mengankat masalah pendidikan di tanah Papua Yune Angel Anggelia Rumateray Terima Apresiasi SATU Indonesia Award secara Individu kategori Pendidikan Papua Sekolah Alam & Bevak Literasi Paradise Untuk memdapatkan itu, Anggel telah lalukan Banyak kegiatan hingga Dirikan ceo.
Yune Angel Rumateray adalah pendiri dan CEO sekolah alam dan Bevak Literasi Paradise. Ia menempuh pendidikan Jurusan HAM dan Kesejahteraan Sosial, Fakultas Hukum, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ia aktif sebagai paralegal aktif di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta.
Sekolah Alam Paradise hadir di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan untuk memajukan dan meningkatkan literasi anak-anak asli Papua khusus nya di Kabupaten Merauke.
Pengelola sekolah alam Paradise, Yune Angel Anggelia Rumateray mengungkapkan, melihat kondisi anak-anak usia sekolah di sekitar tempat tinggalnya yang belum mengenal literasi, dirinya berinisiatif membentuk satu wadah yang memberikan pendidikan dengan cara sederhana.
Di kutip dari Tribun Papua, Penerima Apresiasi Tingkat Provinsi 2022 urutan ke 64 mewakili provinsi Papua itu bercerita awal berjalannya sekolah alam.
"Awalnya saya mengumpulkan 60 anak, saya berikan pengetahuan dengan buku seadanya yang ada di rumah. Saat ini jumlah anak-anak bertambah menjadi 87 anak," ungkap Yune di rumahnya, Selasa (11/7/2023). Lalu.
Diceritakan, awal berjalannya sekolah alam Paradise tidak memiliki tempat atau gedung, sehingga proses pembelajaran dilakukan dibawah pohon di sebelah rumahnya.
Tak hanya membaca buku, anak-anak juga diberikan pengetahuan tentang alam dan terjun langsung ke lapangan.
"Kita belajar bersama anak-anak ini tidak hanya monoton di gedung, tapi dapat belajar dimana saja, seperti di hutan dan si pinggir Sungai Maro. Anak-anak lebih senang ketika mendapat ilmu langsung di lapangan," ujarnya.
Sekolah Alam Paradise kini mulai mendapat dukungan dari berbagai pihak, diantaranya 1 unit bangunan dari PT PLN dan ratusan buku dari anggota dewan Provinsi Papua.
Yune juga menuturkan, dari 87 anak-anak, hanya 40 anak yg memiliki data lengkap, sedangkan sisa lainnya terkendala data keluarga.
Dengan adanya kendala tersebut, anak-anak yang belum memiliki data pribadi lengkap kesulitan untuk diinput ke dalam Dapodik.
"Selain membaca buku dan praktek di lapangan, anak-anak ini juga kita ajarkan bahasa ibu atau bahasa suku Malind. Bahasa yang kita terapkan adalah bahasa sehari-hari, dan sampai saat ini anak-anak kita sudah mulai terbiasa dengan bahasa Malind," tuturnya.
Selain itu dalansalah satu petisi ia juga membuat kampenye peduli alam Dan lingkungan dengan judul Pemerintah Merauke, Buat Satgas Patroli Pantai. Stop Tambang Pasir Ilegal!
"Aspal jalan hancur, sampai rumah juga runtuh. Tapi kenapa ya Pemerintah Merauke belum juga bertindak?," tanyanya.
Ia menuliskan, dirinya selalu dengar Jalan rusak dan Roboh, sebagai peduli lingkungan Ia takut dengan itu
"Saya Yune, penggiat lingkungan dan pendiri Papua Paradise Center di Merauke, Papua. Setiap kali dengar ada rumah yang roboh akibat abrasi, jujur saya takut. Mungkin hanya masalah waktu, rumah saya juga akan kena dampak abrasi," tulisnya.
Abrasi yang terjadi di pesisir pantai-pantai di Merauke sudah parah. Seperti di Pantai Imbuti atau Pantai Lampu Satu, yang hanya berjarak 3 km dari pusat kota. Kita bisa melihat daratan yang terkikis, pohon kelapa yang tumbang, dan rumah yang juga ditinggalkan penghuninya karena bisa roboh kapan saja.
Masalah abrasi ini dipicu dari adanya penggalian pasir ilegal untuk dijual sebagai salah satu bahan material bangunan, yang kegiatannya dilakukan secara terus-menerus setiap hari, bahkan sudah menjadi bisnis sekelompok orang-orang tertentu.
Pasir pantai yang digali ini dibeli dari masyarakat lokal seharga Rp 400.000, kemudian dijual kepada pembeli pasir dan dijual lagi seharga Rp 1.200.000 – 1.500.000,-. Tapi kerugian yang dirasakan, jauh lebih besar.
Makanya, saya ingin membuat petisi terkait masalah ini karena sampai saat ini masih banyak terjadi. Saya ingin Pemerintah Merauke punya satuan tugas yang berpatroli di pantai-pantai, terutama dimalam hari. Karena data yang saya temui dilapangan dan juga laporan warga bahwa penggalian pasir sekarang dilakukan secara diam-diam di malam hari dengan alasan menghindari aparat.
Harapan saya, petisi ini akan didukung oleh seluruh warga kota Merauke dan pemerintah supaya kita sama-sama tertolong dari bahaya abrasi.
“Semoga kamu bantu berkolaborasi, Menandatangani petisi, Tuntaskan masalah abrasi, Karena alam akan beraksi, Pada mereka yang tinggal diam tanpa aksi”. Harapnya dalam Aksi kempanye, yang di kansie dari www.change.org.

