Air Mata atau Sejarah! Persipura Hadapi Laga Penentu di Depan Publik Sendiri
Kemenangan 2-0 atas Persiku Kudus di Stadion Lukas Enembe, Minggu (3/5/2026), bukan sekadar tambahan tiga poin. Itu adalah napas terakhir yang menjaga mimpi Mutiara Hitam tetap hidup.
Di tengah musim yang penuh tekanan dan keraguan, Persipura bangkit. Dari tim yang sempat diragukan, kini berdiri di ambang pintu Liga 1. Hanya satu langkah lagi. Satu pertandingan penentu yang akan mengubah segalanya.
Pelatih kepala Rahmad Darmawan tak menutupi besarnya arti momen ini. Ia menyebut kesempatan yang ada sebagai sesuatu yang langka—bahkan bisa jadi tak terulang.
“Puji Tuhan, Alhamdulillah hari ini kita diberikan kemenangan yang sangat penting. Ini momentum yang belum tentu terulang,” ujarnya dengan nada penuh penekanan.
Rahmad tahu betul perjalanan timnya tidak mudah. Dari awal kompetisi yang penuh ketidakpastian hingga akhirnya berdiri di titik penentuan, semua terasa seperti perjalanan panjang yang menguras emosi.
“Kalau melihat perjalanan kita ke belakang, sangat sulit memprediksi kita bisa ada di posisi ini. Tapi sekarang kita punya kesempatan besar untuk masuk Liga 1 melalui play-off, dan itu belum tentu terulang,” katanya.
Kini, nasib itu berada di tangan sendiri.
“Hasil pertandingan lain menyimpulkan bahwa nasib kita akan ditentukan di pertandingan berikutnya di tempat kita sendiri. Artinya, semua ada di tangan kita,” tegasnya.
Pertandingan berikutnya bukan sekadar laga. Itu adalah ujian mental, fisik, dan harga diri. Rahmad bahkan menyebut kemenangan atas Persiku sebagai bagian dari simulasi menuju laga sesungguhnya.
“Ini jadi evaluasi sekaligus pembelajaran bagi kami,” ucapnya.
Ia pun mengingatkan para pemainnya: jangan lengah.
“Saya berharap pemain betul-betul menjaga kondisi fisik, psikologis, dan semua aspek performa. Ini sangat penting untuk pertandingan berikutnya,” ujarnya.
Di balik tekanan besar itu, manajemen juga berdiri di garis yang sama. Manajer tim, Owen Rahadian, menegaskan perjuangan belum selesai.
“Puji Tuhan, kita bisa meraih kemenangan hari ini. Tapi saya sampaikan ke pemain, perjuangan belum selesai,” katanya.
Bagi Owen, kunci utama bukan pada hasil tim lain, melainkan fokus pada diri sendiri.
“Kita tidak perlu lihat hasil tim lain. Yang penting kita fokus pada apa yang bisa kita lakukan di lapangan. Kalau kita konsisten, hasil akan mengikuti,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa kerja keras pemain tidak luput dari perhatian. Bonus telah disiapkan sebagai bentuk apresiasi. Namun, lebih dari itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang diperebutkan.
“Target masih di tangan kita. Kita harus tetap fokus, kerja keras, dan siap menghadapi play-off,” tegasnya.
Dukungan masyarakat Papua pun menjadi kekuatan tersendiri. Ribuan pasang mata akan kembali memadati stadion, membawa harapan, doa, dan keyakinan.
“Terima kasih untuk masyarakat Papua. Dukungan mereka sangat luar biasa dan menjadi semangat tambahan bagi pemain,” kata Owen.
Kini, panggung penentuan sudah di depan mata. Persipura akan menghadapi Adhyaksa FC Banten dalam laga play-off pada 8 Mei 2026, kembali di Stadion Lukas Enembe.
Satu laga. Tanpa ulang. Tanpa perbaikan.
Menang berarti kembali ke Liga 1. Kalah berarti harus menunggu—dan mungkin menanggung luka yang dalam.
Di depan publik sendiri, di tanah yang melahirkan kebanggaan itu, Persipura tidak hanya bermain untuk tiga poin. Mereka bermain untuk sejarah. Untuk harga diri. Untuk membuktikan bahwa Mutiara Hitam belum padam. Dan pada akhirnya, hanya ada dua kemungkinan: Air mata… atau sejarah. (*)
