Sinode GKI Tanah Papua Tegas: Stop Perampasan Tanah Adat, Gereja hadir Membawa kebenaran

 

         Sinode GKI Tanah Papua saat aksii berlangsung di biak wilayah III. (4/2/2026). foto istimewa


Baik,TEBINGDOGIYAI.com - Salah Satu Gereja Sinode GKI di tanah Papua yang berada di biak Menegaskan bawa kehadiran agama tidak hanya kuat khotbah di mimbar, tetapi juga berani hadir dan berdiri bersama umat yang mengalami penderitaan, penindasan, serta perampasan hak atas tanah. Penegasan tersebut disampaikan dalam aksi kepedulian Sinode GKI Tanah Papua yang digelar di Biak, Wilayah III. 04/02/2026) 

Dalam pernyataannya, koordinator aksi pendeta Jonh baransano menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada Klasis Biak Barat serta seluruh klasis yang berani berbicara atas nama Sinode GKI Tanah Papua. Tahun ini, menurutnya, telah ditetapkan sebagai Tahun Kepedulian, sehingga gereja dipanggil untuk benar-benar hadir dalam jeritan umat.

“Gereja dan para pemimpin umat harus berani berdiri. Bukan hanya berkhotbah, tetapi bersama umat yang hidup dalam ketakutan, ditindas, dan tanahnya dirampas,” tegasnya.

Klasis Biak Barat dinilai menjadi contoh bagi 70 klasis lainnya, khususnya dalam menggerakkan umat di Wilayah III untuk berdiri dalam semangat kepedulian yang sama. Apresiasi juga disampaikan kepada para Ketua Klasis yang dinilai peka terhadap situasi umat dan wilayahnya.

Dalam kesempatan tersebut, pendeta Jonh baransano sampaikan pula pesan firman Tuhan dari 2 Timotius 1 ayat 7 yang menegaskan bahwa Allah tidak memberikan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Karena itu, umat diajak untuk membuang rasa takut, tetap tertib, serta menolak segala bentuk rasisme dan perbedaan suku di dalam tubuh GKI Tanah Papua. 

“Tidak boleh ada perbedaan Biak, Manado, Jawa, Toraja, atau suku apa pun. Kita tetap satu dari Sorong sampai Merauke. Apa yang benar di hadapan Tuhan harus dikatakan benar, dan yang salah harus dikatakan salah,” ujarnya sabansano. 

Sebagai koordinator lapangan aksi di Biak Wilayah III, bersama Pendeta Michael Kapissa dari BPS Wilayah III menegaskan sikap tidak mundur dalam memperjuangkan kebenaran. Ia juga menegaskan kepada seluruh pihak, termasuk TNI dan Polri, bahwa Biak bukanlah tanah kosong.

“Ada orang Biak yang hidup di atas tanah ini dan mereka harus dihargai. Tanah yang menjadi milik orang Biak dan seluruh Tanah Papua dari Sorong sampai Merauke harus dikembalikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tahun Kepedulian disebut sebagai momentum untuk membangun kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi, kabupaten, MRP, dan DPRP. Seruan juga disampaikan kepada wakil Papua di DPR RI dan DPD RI agar berani menyuarakan penderitaan umat dan rakyat yang terdampak berbagai kebijakan negara, seperti proyek strategis nasional (PSN), perkebunan sawit, dan pertambangan.

Ia mengingatkan agar Papua belajar dari pengalaman Aceh dan Sumatera yang hingga kini menghadapi dampak kerusakan akibat perampasan tanah dan eksploitasi sumber daya alam. Menurutnya, Papua saat ini tengah berada dalam situasi yang mengkhawatirkan bagi orang Papua sendiri.

Seruan persatuan kembali ditegaskan kepada seluruh umat lintas suku, denominasi gereja, serta seluruh elemen masyarakat yang memperjuangkan hak asasi manusia dan keadilan sosial agar bersatu dan bersuara.

“Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk berjuang tanpa kekerasan. Mari menjadikan Yesus sebagai dasar perjuangan dalam menegakkan kebenaran,” pungkasnya., 


Penulis. Melkias Obaipa


Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel