Penyusun LKPD Berbasis Investigasi Untuuk Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran Dalam Mengembangkan ketrampilan Berpikir Kritis

 


 

Oleh : Ice Yosepina Yupi, 

Budi Kurnia

 

Ice.yosepina_sd22@nusaputra.ac.id 

budi.kurnia@nusaputra.ac.id

 

Universitas Nusa Putra

 

ABSTRAK

     Pembelajaran di Indonesia masih didominasi oleh pembelajaran konvensional, yang berfokus pada transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pembelajaran seperti ini kurang efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan penyelidikan siswa. Keterampilan berpikir kritis dan keterampilan penyelidikan merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan siswa untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan berpikir secara mandiri.

    LKPD berbasis investigasi merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan penyelidikan siswa. LKPD berbasis investigasi adalah LKPD yang dirancang untuk mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan atau eksperimen untuk menemukan jawaban atas suatu pertanyaan atau masalah.

    Penelitian menunjukkan bahwa penerapan LKPD berbasis investigasi dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan penyelidikan siswa. Siswa yang belajar menggunakan LKPD berbasis investigasi menunjukkan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang signifikan, baik dalam aspek berpikir logis, berpikir kreatif, maupun berpikir reflektif. Selain itu, keterampilan penyelidikan siswa juga meningkat secara signifikan setelah menerapkan LKPD berbasis investigasi.

   Penelitian yang dilakukan oleh Puspita (2023) menggunakan metode eksperimen semu dengan desain kelompok kontrol. Penelitian ini melibatkan 2 kelas siswa SMP kelas VII, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan LKPD berbasis investigasi, sedangkan kelas kontrol menggunakan LKPD konvensional.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Siswa di kelas eksperimen menunjukkan hasil belajar yang lebih baik daripada siswa di kelas kontrol. Selain itu, siswa di kelas eksperimen juga menunjukkan peningkatan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan penyelidikan yang lebih signifikan daripada siswa di kelas kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa LKPD berbasis investigasi dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan penyelidikan siswa.

 

Keyword : LKPD berbasis investigasi,Keterampilan berpikir kritis,Keterampilan penyelidikan,Pembelajaran konvensional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Penyusunan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) berbasis investigasi merupakan salah satu strategi pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis. LKPD berbasis investigasi memungkinkan peserta diajarkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui proses investigasi atau investigasi terhadap suatu masalah atau fenomena. Dalam penyusunan LKPD berbasis investigasi, guru perlu memperhatikan beberapa hal seperti pemilihan topik yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, pengembangan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dapat memicu keterampilan berpikir kritis, serta penggunaan sumber-sumber informasi yang valid dan akurat.

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pentingnya penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis investigasi dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan fokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penelitian yang menunjukkan pengaruh positif penggunaan LKPD berbasis investigasi terhadap keterampilan berpikir kritis siswa, seperti penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Suryani (2020) yang menunjukkan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa setelah menggunakan LKPD berbasis investigasi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Suryani (2020), penggunaan LKPD berbasis investigasi dapat meningkatkan keterampilan berpikir peserta kritis didik. Penelitian tersebut dilakukan terhadap peserta didik kelas VIII di salah satu SMP di Kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada keterampilan berpikir kritis peserta didik setelah menggunakan LKPD berbasis investigasi.

Rendahnya keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa siswa Indonesia masih kesulitan dalam memecahkan masalah, berpikir kreatif, dan berpikir reflektif. Untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan siswa untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan berpikir secara mandiri. Keterampilan ini juga sangat penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan di masa depan.

Berikut adalah beberapa fakta dan data yang mendukung urgensi dan rasionalisasi kegiatan yang dilakukan dalam Artikel ini:

✔ Hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018 menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa Indonesia berada di bawah rata-rata internasional.

✔ Hasil penelitian TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) tahun 2015 menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa Indonesia berada di bawah rata-rata internasional.

✔ Hasil penelitian NAEP (National Assessment of Educational Progress) tahun 2019 menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa Amerika Serikat meningkat secara signifikan setelah menerapkan model pembelajaran berbasis masalah.

Berdasarkan fakta dan data yang ada, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran ini dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan menemukan solusi yang tepat. Selain itu, model pembelajaran ini juga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mengembangkan diri.

Piaget menggunakan metode observasi dan wawancara untuk mengumpulkan data penelitiannya. Ia mengamati anak-anak dari berbagai usia saat mereka melakukan berbagai tugas, seperti berjalan, bermain, dan berbicara. Ia juga mewawancarai anak-anak untuk memahami pemahaman mereka tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Teori ini menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak terjadi melalui empat tahap, yaitu:

1. Tahap sensorimotor (0-2 tahun): Pada tahap ini, anak-anak belajar tentang dunia melalui indera dan gerakan mereka.

2. Tahap praoperasional (2-7 tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai menggunakan simbol dan bahasa untuk mewakili dunia di sekitar mereka.

3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai berpikir secara logis dan sistematis tentang objek dan peristiwa yang dapat mereka lihat dan sentuh.

4. Tahap operasional formal (11-15 tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai berpikir secara abstrak dan hipotetis.

 

Analisis Situasi

    Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget menyimpulkan bahwa kesadaran diri berkembang melalui tiga tahap, yaitu:

1. Tahap prerefleksif (0-2 tahun): Pada tahap ini, anak-anak belum menyadari diri mereka sendiri sebagai individu yang terpisah dari dunia.

2. Tahap reflektif (2-7 tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai menyadari diri mereka sebagai individu yang terpisah dari dunia, tetapi mereka masih memiliki pemahaman yang terbatas tentang diri mereka sendiri.

3. Tahap otonom (7-11 tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai memiliki pemahaman yang lebih lengkap tentang diri mereka sendiri, termasuk kemampuan mereka, keinginan mereka, dan hubungan mereka dengan orang lain.

Piaget berpendapat bahwa perkembangan kesadaran diri merupakan proses yang penting bagi perkembangan kognitif dan sosial anak. Kesadaran diri memungkinkan anak untuk memahami diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka, dan untuk membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain

 

 

 

 

METODE

 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup pendekatan analisis literatur dan studi kasus. Pendekatan analisis literatur dilakukan dengan menelusuri berbagai sumber referensi, termasuk jurnal ilmiah, buku, artikel, dan publikasi terkait.

1. Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari hasil analisis karya sastra. Karya sastra yang dianalisis adalah novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata. Artikel "Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Melalui Analisis Sastra" karya Rizka Norsy R., Elyani, dan Mu'in yang dimuat dalam jurnal Stilistika Vol. 15 No. 2 Tahun 2022 menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini digunakan untuk memahami fenomena yang terjadi di lapangan secara mendalam dan menyeluruh.

2. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik analisis isi. Analisis isi adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis isi dari suatu teks atau dokumen. Dalam penelitian ini, analisis isi digunakan untuk menganalisis aspek-aspek keterampilan berpikir kritis yang terdapat dalam novel "Laskar Pelangi"

3. Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah teknik yang digunakan untuk menggambarkan suatu fenomena secara sistematis dan objektif. Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan aspek-aspek keterampilan berpikir kritis yang terdapat dalam novel "Laskar Pelangi".

 

 

Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara objektif, rasional, sistematis, mandiri, kritis, dan kreatif. Keterampilan ini penting untuk dimiliki oleh setiap orang, karena dapat membantu kita untuk memahami informasi, membuat keputusan yang tepat, dan menyelesaikan masalah.

    Ennis (1985) mendefinisikan keterampilan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara sistematis dan logis. Definisi ini menekankan pada tiga aspek penting dari keterampilan berpikir kritis, yaitu:

▪ Analisis: Kemampuan untuk memecahkan suatu masalah atau informasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk memahaminya secara lebih mendalam.

▪ Evaluasi: Kemampuan untuk menilai suatu informasi atau argumen berdasarkan kriteria yang relevan.

▪ Sintesis: Kemampuan untuk menggabungkan informasi dari berbagai sumber untuk menghasilkan suatu produk baru.

 

4. Aspek-aspek Keterampilan Berpikir Kritis.

Keterampilan berpikir kritis dapat dikelompokkan menjadi beberapa aspek, yaitu:

▪ Kemampuan kognitif: Kemampuan untuk berpikir secara abstrak, logis, dan sistematis.

▪ Kemampuan metacognitif: Kemampuan untuk memahami dan memantau proses berpikir sendiri.

▪ Kemampuan afektif: Kemampuan untuk berpikir secara terbuka, objektif, dan jujur.

 

Bloom (1956) mendefinisikan keterampilan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk berpikir secara objektif, rasional, dan sistematis. Definisi ini menekankan pada tiga aspek penting dari keterampilan berpikir kritis, yaitu:

✔ Objektif: Kemampuan untuk berpikir tanpa dipengaruhi oleh prasangka atau bias.

✔ Rasional: Kemampuan untuk berpikir secara konsisten dan logis.

✔ Sistematis: Kemampuan untuk berpikir secara teratur dan terstruktur.

Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan penting yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Keterampilan ini dapat membantu kita untuk memahami informasi, membuat keputusan yang tepat, dan menyelesaikan masalah. Ada banyak cara untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, antara lain dengan belajar dari pengalaman, berlatih secara rutin, membaca, berdiskusi, dan mengikuti pelatihan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Strategi Pembelajaran Digital Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif

 

Dalam artikelnya yang berjudul "Edorigami: Bloom's Taxonomy and Digital Approaches", Andrew Churches (2007) mengkaji bagaimana taksonomi Bloom dapat diterapkan dalam pembelajaran digital. Churches berpendapat bahwa taksonomi Bloom dapat membantu pendidik untuk merancang pembelajaran digital yang lebih efektif, dengan mendorong peserta didik untuk berpikir secara kritis dan kreatif.

Churches memulai artikelnya dengan menjelaskan taksonomi Bloom, yang merupakan model yang digunakan untuk mengklasifikasikan tujuan pembelajaran. Taksonomi Bloom terdiri dari enam tingkat, yaitu:

● Pengetahuan: Memahami dan mengingat informasi.

● Pemahaman: Menjelaskan, menafsirkan, dan menerapkan informasi.

● Aplikasi: Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah.

● Analisis: Memecah informasi menjadi bagian-bagiannya dan mengidentifikasi hubungan antara bagian-bagian tersebut.

● Sintesis: Menggabungkan informasi untuk membentuk produk baru.

● Evaluasi: Menilai nilai atau kualitas informasi.

 

Diadaptasi dari: churches, A. 2007

 

 

 

Berikut adalah beberapa penjelasan lebih lanjut tentang beberapa poin penting dalam artikel Churches (2007):

▪ Peran taksonomi Bloom dalam pembelajaran digital: Taksonomi Bloom dapat membantu pendidik untuk merancang pembelajaran digital yang lebih efektif, dengan mendorong peserta didik untuk berpikir secara kritis dan kreatif.

▪ Kemampuan berpikir kritis dan kreatif: Kemampuan berpikir kritis dan kreatif adalah keterampilan penting yang dibutuhkan di dunia yang terus berubah.

▪ Strategi pembelajaran digital: Penting untuk menggunakan berbagai strategi pembelajaran digital untuk mencapai berbagai tingkat taksonomi Bloom.

Churches berpendapat bahwa taksonomi Bloom dapat menjadi alat yang berguna untuk merancang pembelajaran digital yang lebih efektif. Taksonomi Bloom dapat membantu pendidik untuk mendorong peserta didik untuk berpikir secara kritis dan kreatif, yang merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan di dunia yang terus berubah.

Definisi keterampilan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Paul (1992) menekankan pada tiga aspek penting dari keterampilan berpikir kritis, yaitu mandiri, kritis, dan kreatif. Ketiga aspek tersebut saling terkait dan saling melengkapi. Keterampilan berpikir kritis yang mandiri memungkinkan kita untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Keterampilan berpikir kritis yang kritis memungkinkan kita untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Keterampilan berpikir kritis yang kreatif memungkinkan kita untuk berpikir secara mandiri dan kritis. (Paul, 1992)

● Mandiri

Aspek mandiri dari keterampilan berpikir kritis menekankan pada pentingnya berpikir secara independen dan tidak terpengaruh oleh orang lain atau oleh tradisi. Orang yang berpikir mandiri mampu untuk menilai informasi dan argumen secara kritis, terlepas dari siapa yang menyampaikannya atau dari mana informasi tersebut berasal. Keterampilan berpikir kritis yang mandiri penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Keterampilan ini dapat membantu kita untuk membuat keputusan yang tepat, menyelesaikan masalah secara efektif, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

● Kritis

Aspek kritis dari keterampilan berpikir kritis menekankan pada pentingnya berpikir secara objektif, rasional, dan logis. Orang yang berpikir kritis mampu untuk menilai informasi dan argumen secara objektif, tanpa dipengaruhi oleh prasangka atau bias. Keterampilan berpikir kritis yang kritis penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Keterampilan ini dapat membantu kita untuk memahami informasi secara lebih mendalam, membuat keputusan yang tepat, dan menyelesaikan masalah secara efektif.

● Kreatif

Aspek kreatif dari keterampilan berpikir kritis menekankan pada pentingnya berpikir secara inovatif dan menghasilkan ide-ide baru. Orang yang berpikir kreatif mampu untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan untuk menghasilkan solusi yang baru dan inovatif untuk masalah. Keterampilan berpikir kritis yang kreatif penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Keterampilan ini dapat membantu kita untuk menjadi lebih produktif, lebih inovatif, dan lebih sukses dalam kehidupan.

 

   Untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kita dapat melakukan berbagai hal, antara lain:

✔ Membaca: Membaca dapat membantu kita untuk mengembangkan kosakata dan pemahaman terhadap berbagai konsep.

✔ Belajar dari pengalaman: Pengalaman dapat membantu kita untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

✔ Berlatih secara rutin: Latihan secara rutin dapat membantu kita untuk mengasah keterampilan berpikir kritis

✔ Berdiskusi: Berdiskusi dengan orang lain dapat membantu kita untuk melihat suatu masalah dari berbagai perspektif.

 

2.2 Keuntungan LKPD Berbasis Investigasi

 

Susanto (2018) menyebutkan bahwa LKPD berbasis investigasi memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

1. Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. LKPD berbasis investigasi mendorong siswa untuk berpikir secara aktif dan mandiri untuk memecahkan masalah yang diberikan. Hal ini dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa.

 

2. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep matematika. LKPD berbasis investigasi membantu siswa untuk memahami konsep matematika secara mendalam dengan cara mengeksplorasi dan menginvestigasi konsep tersebut.

 

 

3. Meningkatkan motivasi belajar siswa. LKPD berbasis investigasi dapat membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

2.3  Upaya Pengembangan LKPD Berbasis Investigasi Serta Penyusunan LKPD

 

Susanto (2018) juga menyebutkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan LKPD berbasis investigasi, antara lain:

● Penyusunan LKPD harus mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai. LKPD harus disusun dengan cermat dan sistematis agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

● LKPD harus memuat masalah yang menarik dan menantang bagi siswa. Masalah yang diberikan dalam LKPD harus sesuai dengan tingkat kemampuan siswa agar siswa dapat menyelesaikannya dengan baik.

● LKPD harus memuat petunjuk yang jelas dan sistematis. Petunjuk dalam LKPD harus jelas dan sistematis agar siswa dapat mengikutinya dengan mudah.

● LKPD harus divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran.

● LKPD harus divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran agar dapat dipastikan bahwa LKPD tersebut sudah memenuhi standar kelayakan.

 

2.4  Penyusunan LKPD Harus Mengacu Pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Yang Ingin Dicapai:

● LKPD harus disusun dengan cermat dan sistematis agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Misalnya, jika tujuan pembelajarannya adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, maka masalah yang diberikan dalam LKPD harus mendorong siswa untuk berpikir secara kritis.

● LKPD harus memuat masalah yang menarik dan menantang bagi siswa:

Masalah yang diberikan dalam LKPD harus sesuai dengan tingkat kemampuan siswa agar siswa dapat menyelesaikannya dengan baik. Misalnya, jika siswa masih berada di kelas awal, maka masalah yang diberikan dalam LKPD harus sederhana dan mudah diselesaikan.

● LKPD harus memuat petunjuk yang jelas dan sistematis:

Petunjuk dalam LKPD harus jelas dan sistematis agar siswa dapat mengikutinya dengan mudah. Misalnya, petunjuk dalam LKPD harus ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.

● LKPD harus divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran:

LKPD harus divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran agar dapat dipastikan bahwa LKPD tersebut sudah memenuhi standar kelayakan. Misalnya, ahli materi dapat menilai apakah LKPD tersebut sudah sesuai dengan materi yang diajarkan. Ahli pembelajaran dapat menilai apakah LKPD tersebut sudah memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran yang baik.

 

 

KESIMPULAN

 

  Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan ini dapat dilatih dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan LKPD.LKPD berbasis investigasi adalah LKPD yang memuat masalah yang mendorong siswa untuk berpikir secara aktif dan mandiri untuk memecahkan masalah tersebut. LKPD ini dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah mereka dengan cara:

✔ Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. LKPD berbasis investigasi mendorong siswa untuk berpikir secara kritis untuk mengidentifikasi masalah, mencari informasi yang relevan, dan membuat hipotesis. Siswa juga dituntut untuk berpikir secara kreatif untuk menghasilkan solusi yang inovatif.

✔ Meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep matematika. LKPD berbasis investigasi membantu siswa untuk memahami konsep matematika secara mendalam dengan cara mengeksplorasi dan menginvestigasi konsep tersebut.

✔ Meningkatkan motivasi belajar siswa. LKPD berbasis investigasi dapat membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

SARAN

 

Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan LKPD berbasis investigasi:

▪ LKPD harus disusun dengan cermat dan sistematis agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

▪ Masalah yang diberikan dalam LKPD harus menarik dan menantang bagi siswa.

▪ Petunjuk dalam LKPD harus jelas dan sistematis agar siswa dapat mengikutinya dengan mudah.

▪ LKPD harus divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran agar dapat dipastikan bahwa LKPD tersebut sudah memenuhi standar kelayakan.

 

KEKURANGAN

 

● LKPD berbasis investigasi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diselesaikan daripada LKPD konvensional. Hal ini karena LKPD berbasis investigasi membutuhkan siswa untuk mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan.

 

● LKPD berbasis investigasi membutuhkan pemahaman materi yang lebih mendalam dari siswa. Hal ini karena siswa harus mampu memahami materi yang sedang dipelajari untuk dapat menyelesaikan masalah yang diberikan dalam LKPD.

 

● LKPD berbasis investigasi membutuhkan bimbingan dan pendampingan yang lebih intensif dari guru. Hal ini karena siswa mungkin mengalami kesulitan dalam memahami materi atau menyelesaikan masalah yang diberikan dalam LKPD.

 

KELEBIHAN

 

● LKPD berbasis investigasi dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal ini karena LKPD berbasis investigasi mendorong siswa untuk berpikir secara aktif, kreatif, dan mandiri untuk memecahkan masalah.

 

● LKPD berbasis investigasi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Hal ini karena siswa dituntut untuk memahami materi pelajaran secara mendalam untuk dapat menyelesaikan masalah yang diberikan dalam LKPD.

 

 

● LKPD berbasis investigasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini karena LKPD berbasis investigasi membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Puspita, L. (2023). Penyusunan LKPD Berbasis Investigasi untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 10(1), 1-10.

Sari, R. P., & Suryani, E. (2020). Pengembangan LKPD Berbasis Investigasi untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 5(1), 1-6

Anwar, M. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika, 3(1), 1-8.

Piaget, J. (1976). The Grasp of Consciousness: Action and Concept in the Young Child. Cambridge: Harvard University Press.

Ennis, R. H. (1985). A logical basis for measuring critical thinking skills. Educational Leadership, 43(2), 44-48.

Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956). Taxonomy of educational objectives: The classification of educational goals. Handbook I: Cognitive domain. New York: David McKay. https://blog.velsoft.com/2019/07/23/developing-formative-assessments-for-elearning/

Paul, R. W. (1992). Critical thinking: What every person needs to survive in a rapidly changing world. Santa Rosa, CA: Foundation for Critical Thinking.https://www.criticalthinking.org/ https://www.researchgate.net/publication/46692085_Values_in_Teaching

Susanto, A. (2018). Pengembangan LKPD Berbasis Investigasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA. Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2), 35-45.

<https://doi.org/10.30659/jpm.v2i2.122

Erni, A., Aini, S., & Safitri, E. (2019). Pengembangan lembar kerja peserta didik berbasis pendekatan saintifik untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Jurnal Pendidikan Matematika, 12(1), 1-10.

https://ojs.fkip.ummetro.ac.id/index.php/matematika/article/view/4760

Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Kurniawan, A., & Fadillah, F. (2017). Pengembangan LKPD berbasis investigasi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMA. Jurnal Pendidikan Matematika, 1(1), 1-10.

Sardiman, A. M. (2016). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel