Mira, Kunyalakan lilin kecil kita di malam tahun baru
Oleh: Sesilius Kegou
Maafkan Aku, Mira. Aku harus menghayal dan tulis dalam sepucuk surat ini, agar kau datang dalam mimpiku pada malam terakhir tahun 2023.
Sekarang sudah dua minggu, aku menunggumu disini, di kampung kita, Dawai, dekat kampung Bomomani pusat kecamatan Mapia. Kau tak juga datang. Kampung kecil disusun rumah honai ini dipandang indah, tapi, itu bagi orang lain, bagiku masih terbayang budi baikmu. Lereng gunung Kobouge sana, sejumlah kawanan burung merpati selalu beterbangan seperti dulu. Mana kala kau suka melihatnya. Moment itu selalu saja ada. Deretan kenangan [kita] tersimpan disini. Aku ingat semua, sebelum jalan trans masuk di kampung kita, Dawai. Kampung kecil permadani dengan ilalang sekitar bibir jalan raya itu kaya dengan kacang tanah. Tanam dan panen kacang menjadi kebiasaan masyarakat Mapia, termasuk ibumu yang tua itu. Aku masih suka masak kacang di bambu, itu ajaranmu, aku ingin wariskan.
Mira, Kebun kedua kita di sebelah kali Mapia itu kini ditumbuhi rerumputan hingga kuasai semak duri. Aku tak pernah berkunjung lagi setelah kepergianmu.
Jujur Mira, soal bertani dan berkebun, sudah ku kuburkan. Aku habiskan waktuku di rumah kita. Mana ada, kini tentangmu, telah bawa pergi dengan kematianmu. Tapi kebaikanmu tetap masih menjadi dasar hidupku, bahwa cukupkan diri kita dari hasil keringat kita. Mira, akhir-akhir ini, orang-orang di Bomomani bercerita tentangmu padaku. Maria Tigi, temanmu itu juga cerita soal kematianmu. Tapi kadang aku berpura-pura tak dengar karena pelit kepergianmu.
Mira kekasihku, besok, malam tahun baru. Sore ini, aku datang di gereja. Gereja Katolik Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani terlihat bersih. Menara gereja juga berdiri gagah, di pastoran juga ramai orang. Aku ingat, kala itu, kita kasih seikat sayur dan kacang pada Suster Sera. Itu adalah hasil panen kebun pertama kita setelah nikah di gereja ini. Kau bilang, "agar tanaman kita diberkati Tuhan, hasil pertama harus kasih Pastor atau suster di gereja".
Mira, sore ini aku datang seorang diri, seharusnya, kita sama-sama kesini, tapi motor Mio Beat ini hanya aku, tanpa sayur dan kacang juga. Mira, aku tak bisa. Dimana dirimu dan kata-katamu itu.
Tadi, pastor Ferdinand datang ke sini. Mira, Pastor tanya tentangmu, aku bilang, "dia di rumah. Sedang kerja. Dia baik-baik saja". Maafkan saya, aku harus menyangkal dirimu yang masih terbaring di alam sana. Semoga kau bahagia.
Umat Katolik Bomomani datangi gereja, mereka membawa bekal, tapi aku hanya seorang diri. Hanya baju kerjaku, pemberianmu itu. Dengan baju, aku anggap kita berdua kesini dengan bahagia. Senyumanmu itu datang lagi, aku menjadi lelaki kuat diantara mereka yang bahagia dengan sanak saudaranya.
Mira, besok malam pergantian tahun baru 2024, rumah kecil kita itu sudah kuasai sunyi sejak hari itu. Aku tak tahu kematianmu, bukan karena benci padamu. Tapi kasihan melihat matamu tertutup yang terakhir kalinya. Sengaja aku keluar rumah, agar dengan tenang, kau menghadap Tuhan. Jangan membebani aku dengan kebaikanmu itu. Tapi, walau berat, aku tak mau melupakanmu. Kau adalah Malaikatku setelah ibuku.
Mira, sore ini di gereja, tadi banyak orang tanya tentangmu, Ibu pembina OMK juga tanya. Semua orang bertanya-tanya. Aku diam dibalik semuanya. Aku harus bilang apa kepada mereka, ketika ku jujur, mereka akan sedih. Jika aku menyangkal, aku berdosa. Mana yang kupilih, Mira.
Mira, aku mau balik ke rumah, ke Dawai. Tunggu aku disana. Walau tanpamu, ku akan menyalakan lilin kecil kita dekat tungku api, sebelah yang biasa kau duduk bila membakar ubi jalar sebagai santapan malam. Aku ingat, kau perempuan dewasa, kuat. Tapi kau tak kuat menahan nirwana. Tapi aku sadar, kematian dan tentang Sorga adalah rahasia Tuhan.
)*Penulis surat untuk Mira ini adalah tinggal di Nabire.
