Memasuki Natal 2023, Ini Surat Gembala Uskup Jayapura

Uskup Keuskupan Jayapura, Yanuarius Theofilus Matopai You

Salam dalam kasih dan damai Tuhan kita Yesus Kristus

Mengawali surat gembala ini, saya ingin menyapa kalian semua, baik yang berada dikota-kota, di pinggiran kota maupun yang menetap di pedalaman sampai di pelosok-pelosok, selamat berjumpa; semoga kalian semua tetap sehat dan penuh semangat, Ego Vobiscum Sum. 

Sebentar lagi kita memasuki masa Adven; sebuah masa dimana kita diajak untukmempersiapkan diri dalam rangka menyambut kelahiran Sang Emanuel, Allah yangmenyertai kita. Dalam rangka menyongsong hari yang sangat kudus dan suci ini,perkenankanlah saya, Yanuarius Theofilus Matopai You, Uskupmu menyampaikanpesan Natal untuk tahun 2023 ini.

Sebagaimana kita ketahuii bahwa tahun politik 2024 sudah terasa mulai sekarang.Rakyat Indonesia akan merayakan pesta demokrasi pada tanggal 14 Februari 2024untuk memilih Wakil Rakyat, yakni DPR RI, DPD, DPRP, DPRD (kabupaten/kota), dan memilih Presiden dan Wakilnya.

Pada tanggal 27 November 2024, kita juga akan memilih 548 Kepala Daerah, 37 Gubernur, 415 Bupati dan 93 Walikota. Tahun 2024 akan menjadi tahun yang suhu politiknya tinggi dan dari sisi ekonomi perhelatan ini akan menguras anggaran negara (pusat dan daerah). Anggaran yang mencapai puluhan trilyun akan mubazir jika pemilutersebut tidak bisa melahirkan orang-orang yang profesional dalam bekerja untuk kesejahteraan rakyat.

Situasi politik akhir-akhir ini, khususnya yang terkait pemilihan Presiden dan wakilPresiden, pemilihan anggota legislatif baik pusat maupun daerah dan pemilihan kepaladaerah (Gubernur, Walikota dan Bupati), cenderung menunjukkan turunnya kualitas demokrasi. Biaya politik yang mahal menggoda orang untuk menempuh segala cara demi mencapai tujuan dan mengembalikan biaya yang dikeluarkan.

Di sana-sini, para calon juga tidak segan menerabas hukum, melakukan politik uang,menghalalkan nepotisme, bahkan mempraktekan isu-isu SARA (suku, agama, ras danantar golongan). Semuanya ini dilakukan hanya untuk kepentingan pribadi, kelompokatau partai tertentu.

Di banyak tempat pesta demokrasi itu sering kali berproses dan berakhir dengan konflik baik horizontal (di antara pribadi, keluarga- keluarga, kelompok-kelompok masyarakat, antar partai) maupun konflik vertikal yang berkepanjangan sehingga memakan waktu dan biaya mahal dalam penyelesaian permasalahan terkaitpemilu.

Persiapan dan perayaan Natal kali ini cukup menarik dan menantang karenabersamaan dengan persiapan untuk Pemilu 2024. Kita sebagai warga bangsa akan memilih para pemimpin dan wakil rakyat. Di satu sisi, perhelatan politik itu membawakegembiraan dan sukacita; tetapi di sisi lain perhelatan itu tidak jarang menyisahkan dampak negatif seperti lahir atau munculnya beragam konflik baik horisontal maupun vertikal.

Bagi umat Kristiani pilihan untuk terlibat dalam politik merupakan bagian dari cara untuk memuliakan Allah. Maka politik identitas dan politik uang atau bentuk- bentuk politik yang tidak mencerminkan nilai-nilai Kristiani bukanlah pilihan perjuangan politik kita. 

Kita menolak politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara termasukmengorbankan rakyat dan merendahkan martabat luhur kehidupan. Semangat Natal mesti menggerakan seluruh umat Kristiani untuk terlibat secara aktif dalam menata kehidupan berbangsa yang lebih bermartabat demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Oleh karenanya, pantaslah kalau kita mendukung perjuangan politik yang mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Kepada seluruh umat katolik Keuskupan Jayapura, saya mengajak agar bergerak bersama menyukseskan pesta demokrasi tahun 2024 ini dengan ikut serta secara aktif dalam memilih baik DPRD, DPRP, DPD, Bupati, Wali Kota, Gubernur maupun Presiden dan Wakil Presiden. Ikuti dan laksanakan Pemilu dengan asas LUBER-JURDIL (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia, Jujur dan Adil).

Pilihlah wakil-wakil rakyat maupun pempimpin-pemimpin daerah dan bangsa yangdikenal beriman, bermoral baik, peduli pada masyarakat, berjuang untuk kebaikanbersama (bonum commune), cinta damai, anti kekerasan, bersikap toleran antar umat beragama, peduli pada pelestarian lingkungan hidup dan nasionalis. Sekali lagi,hendaknya kita tidak terjebak atau ikut dalam politik uang untuk mendapatkan dukungan suara.

Amat penting bagi semua warga masyarakat, khususnya umat Katolik untuk menjagaproses pemilihan agar berjalan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, damai danberkualitas. Kita juga berkewajiban untuk menjaga jangan sampai terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung; sebab jika itu terjadi maka kita akan sulit merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hidup bersama di tengah masyarakat. 

Sebagai umat beriman, marilah kita menyukseskan pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan ini dengan tak lupa memanjatkan doa serta memohon berkat Tuhan agar berlangsung damai dan berkualitas serta menghasilkan wakil-wakil rakyat, pemimpin daerah, pemimpin bangsa yang benar-benar memperjuangkan kesejahteran, keadilan, kemakmuran serta kedamaian bagi bangsa dan tanah air Indoensia dan teristimewabagi tanah yang kita cintai, Papua.

Saya juga meminta agar kita tak lupa berdoa novena kepada Bunda Maria sebagai ibusegala bangsa agar Puteranya, Sang Emanuel senantiasa melindungi bangsa dan negara kita serta memberkati seluruh proses pemillihan legislatif, kepala daerah, gubernur dan presiden agar berjalan tertib, lancar dan sukses tanpa diwarnai oleh hal-hal yang menimbulkan perpecahan dan konflik antar sesama anak bangsa.

Selain situasi politik, perdamaian dunia saat ini pun sedang terganggu. Perang antara Rusia dengan Ukraina yang sudah berlangsung hampir dua tahun belum berakhir, kini kita saksikan lagi perang antara negara Israel dan Palestina. Kita hanya bisa ikut memberi bantuan kemanusiaan untuk meringankan penderitaan korban peperangan.

Kita menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak bisa mencampuri urusan internal negaralain dan hanya bisa berdoa bahwa para pemimpin negara-negara yang sedangbertikai agar segera mengambil keputusan untuk menghentikan perang demimenghormati martabat manusia dan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam skala nasional, kita juga tidak bisa mengabaikan atau menutup mata dengan situasi kerawanan keamanan di daerah tempat kita tinggal, yaitu Papua. Situasi konflik yang berkepanjangan yang telah memakan korban jiwa yang begitu banyak perlu juga mendapatkan perhatian yang serius dari kita.

Pada sebagian wilayah Papua seperti wilayah Meybrat, Intan Jaya, Dogiyai, Pegunungan Bintang, Ndugama masih terus terjadi konflik antara kelompok Papua Merdeka versus aparat keamanan. Situasi ini menyebabkan masyarakat sipil sulit mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Bahkandi beberapa tempat masyarakat sipil harus rela meninggalkan kampung halamannya dan menjadi pengunsi di tempat lain.

Dalam rangka menanggapi situasi ini, saya meminta agar pemerintah perlu dudukbersama dan berdialog dengan setiap kelompok dan stakeholder terkait. Mari berkaca pada penyelesaian konflik di Aceh; dengan duduk bersama dengan semua pihak terkait, akhirnya mereka bisa menemukan jalan perdamaian yang membawa keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat. Pemecahan masalah di Papua juga harus melibatkan para pihak agar menemukan cara-cara bijak untuk menciptakan rasa damai dan aman dalam hidup bersama di tengah-tengah masyarakat.

Masalah lain yang juga mengancam kehidupan kita saat ini adalah pemanasan global (global warming), penggundulan hutan dan perubahan iklim. Krisis lingkungan inimenjadi masalah tersendiri bagi kita karena terkait dengan lingkungan hidup yang sekarang kita tinggal dan masa depan anak cucu kita. Kita diingatkan untuk terus mengimplementasikan spirit Ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus. Dalam salah satubagian dari ensiklik ini, Paus Fransiskus memuji dan mengapresiasi berbagai lembaga yang melakukan gerakan penanaman pohon, pertanian dengan pupuk organik untuk ketahanan pangan dan pengolahan sampah dengan baik dan benar.

Seiring dengan himbauan Paus Fransiskus, saya juga meminta dan mengingatkanseluruh umat Katolik Keuskupan Jayapura serta pemerintah agar perkuat kerjasamadalam rangka menciptakan bumi sebagai rumah kita bersama. Kelahiran Yesus justru memberi semangat bagi kita untuk menghadirkan kedamaian bagi sesama dan seluruhciptaan.

Kita merayakan Natal dalam berbagai situasi yang penuh dengan tantangan multidimensi (ideologi, sosial, politik, budaya, ekonomi, lingkungan, pertahanan, keamanan). Putera Allah dalam rupa bayi mungil lahir di kandang domba, dibaringkan di atas palungan sambil dibungkus dengan sehelai kain. Putera Allah menjelma dalam rupa bayi lahir di tengah-tengah manusia yang berdosa, itulah tanda kasih Allah bagi manusia agar diselamatkan dari dosa.

Natal merupakan perayaan sukacita karena Allah berkenan menjumpai seluruh ciptaan-Nya dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Warta sukacita tentang kelahiran di Kota Betlehem menggembirakan hati para gembala. “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahirbagimu Juruselamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud” (Luk 2:10-11). Para gembalaadalah pribadi-pribadi sederhana yang memiliki harapan besar kepada Sang Mesiassebagai pembawa damai sejahtera.

Natal mengajak umat beriman untuk masuk dalam karya penyelamatan Allah dan bertemu dengan Sang Juru Selamat agar mengalami damai sejahtera. “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu dipanggil menjadi satu tubuh dan bersyukurlah” (Kol 3:15).

Damai sejahtera (shalom) sebagai suasana hidup yang damai, rukun, dan tentram, tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan antar sesama umat manusia dan antara manusia dengan alam semesta.

Bagaimana kita harus mewujudkan spirit Natal di tengah konflik berkepanjangan yang terjadi di Tanah ini? Mari kita siapkan palungan hati kita masing-masing untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus sebagai Raja Damai. Setelah itu, kita mengikutiteladan para gembala yang datang menyaksikan kelahiran Yesus di kandang dankembali sambil memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anakitu,..”dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka” (Luk 2:17-18).

Mari kita juga mewartakan damai Natal itu dalam keluarga, Gereja, masyarakat danbangsa kita. Kita berdoa untuk perdamaian bangsa-bangsa terutama yang saat inisedang mengalami ketakutan dan kehilangan rasa aman karena konflik dan perang yang terus terjadi. Kita juga tetap berdoa untuk perdamaian dan keadilan di Tanah ini.

Semoga Perayaan Natal yang kita rayakan menghadirkan kedamaian bagi kita semuaagar kita boleh merasakan indah dan nikmatnya hidup bersama di atas Tanah yang diberkati, Tanah Injil. Yesus Kristus yang kita rayakan kelahiran-Nya adalah Allah yang maha kasih; Dia akan selalu bersama kita dalam setiap situasi hidup kita, sebab Dia adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita.

Akhirnya, marilah kita menyambut Raja Damai agar sudi lahir di dalam hati kita masing-masing serta memelihara dan membesarkan bersama dalam suasana kasih dan damai-Nya. Ia ada bersama kita dan tidak pernah meninggalkan kita dalam situasi apapun (bdk Ibr. 13:5). Terimalah doa, berkat dan ucapan Selamat Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 dari saya, uskupmu. Semoga damai Natal meliputi kita semua agar kita boleh hidup dan berjalan bersama dalam damai Tuhan. Tuhan memberkati semua orang yang memiliki niat baik dan berjuang untuk perdamaian di Tanah ini.

Jayapura, 1 Desember 2023

Salam Dalam Tuhan Yang Menyertai Kita

Yanuarius Theofilus Matopai You

     Uskup Keuskupan Jayapura

Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel