Dialog Jalan Bermartabat Demi Papua Tanah Damai
![]() |
| Gambar ist |
*Oleh Antonius Tebai
Situasi Perang Dunia
Situasi akhir-akhir ini kita membaca berita diberbagai media tentang perang antara Ukraina dan Rusia, selain itu perang antara Hamas dan Israel. Bahwa dalam situasi perang itu telah menunjukan bahwa orang hidup tidak aman dan damai. Orang hidup dalam kegelisahan, tekanan. Ribuan jiwa manusia korban akibat perang. Pada 19 Agustus 2023 media Sindo News telah merilis jumlah korban jiwa akibat perang Rusia dan Ukraina“Me nurut berita New York Times korban militer Rusia mendekati 300.000 orang, termasuk sebanyak 120.000 kematian 170.000-180.000 adalah korban cedera. Sedangkan kematian dipihak ukraina mendekati 70.000 orang, dengan 100.000 hingga 120.000 lainya terluka” (https://international-perang.sindonews.com/read/1179661/41/korban-perang-rusia-ukraina-dekati-500000-orang-ini-rincianya-1692407294; akses 27 oktobe 2023).
Perang Israel dan Hamas juga telah menelan banyak korban jiwa. Media CNBC Indonesia telah merilis “kementerian kesehatan Palestina melaporkan sebanyak 6.546, termasuk 2.704 anak-anak menjadi korban tewas di Gaza. Sementara tewas di wilaya tepi barat ada 103, termasuk 30 anak-anak dan 1 perempuan. Militer Israel pun merilis data kematian sebanyak 1.405, termasuk 308 anggota militer dan 58 aggota kepolisiaan tewas selama perang 7-10 oktober” (https://www.cnbcindonesia.com/news/2023105213624-4-483738/7-update-perang-hamas-vs-israel-korban-tewas-tembus-8000: akses 27 oktober 2023). Situasi perang ini telah menggambarkan kengerian kehiduapan yang sangat luar biasa bagi semua orang lebih khusus bagi mereka yang mengalami situasi pearang.
Dalam situasi perang, tentu semua orang mengharapkan agar perang besar-besaran yang sedang terjadi agar segera dapat ditangani dengan baik dengan jalan kemanusiaan tanpa mengorbankan jiwa manusia. Berbagai negara pun sedang menyorti persolan ini agar persoalan ini dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih humanis dengan jalan damai yakni melalui dialog. Termasuk Indonesia telah menyerukan suara kemanusiaan agar perang tersebut dapat diakhiri dengan menempu jalan dialog yang damai dan lebih berbartabat. Peresiden Joko Widodo mengecam keras tindakan kekerasan yang terjadi. “Indonesia tidak akan tinggal diam melihat korban sipil berjatuahan, melihat ketidak adilan terhadap rakyat Palestina yang terus terjadi” Jokowi mengatakan juga bahwa, Indonesia bersama kerjasama Islam bakal mengirimkan pesan kuat kepada dunia untuk menghentikan eskalasi yang terjadi, termasuk menghentikan penggunaan kekerasan dan fokus pada kemanusia dan menyelesaikan akar permasalahan, yaitu penduduk Israel atas Palestina.“sekarang saatnya dunia berdiri bersama membangun solidaritas global untuk menyelesaikan masalah Palestian secara adil dan menerapkan parameter internasional yang telah disepakati” (https://www.cnbcindonesia.com/news/20231019164253-4-4482060/jokowi-sosial-perang-hamas-israel-ri-tak-akan-tinggal-diam : akase 27 oktober 2023).
Paus Fransiskus pertama, pemimpin Gereja Katolik Roma telah menyerukan agar menghentikan perang yang dapat menjauhakan diri dari hidup damai. Ia juga menyerukan kepada dunia, terlebih khus kepada semua umat katolik Roma agar mendoakan situasi perang ini agar negara-negara yang perang dapat mengambil kebijakan yang bijaksana, lebih humanis bermartabat dan menghentikan perang.
Di Gereja Basilika st Petrus vatikan, Paus Fransiskus setelah memimpin doa Agelus menyeruakan agar seluruh umat mendoakan perang Isarel dan Hamas. Dalam menaggapi situasi perang ini, paus Fransiskus mengatakan bahwa, pada tanggal 27 oktober 23 akan menjadikan hari pantang dan puasa untuk perdamaian dunia, doa dan pertobatan pada jam enam sore di Vatikan Di Halaman Gereja Basilika St Petrus, kita akan berkumpul bersama untuk memohon doa perdamaian dunia. Ia juga menyerukan agar perang dihentikan dan mengambil jalan yang lebih humanis tanpa mengorbankan jiwa manusia.
Konflik Bersenjata Di Papua
Selain Situasi perang yang terjadi di belahan dunia Eropa, di Papua juga konflik berkepanjangan terjadi. Banyak jiwa manusia yang telah meninggal dunia. Konflik ini terjadi dalam jangka waktu yang amat panjang. Sejak tahun 1969 hingga saat ini tahun 2023 konflik terus berlangsuang. Konflik ini berawal dari sejarah politik Papua yang tidak bermartabat. Berikut ini merupakan sejumlah operasi militer secara besar-besaran di Tanah Papua yakni, Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Brathayudha (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), Operasi militer di Kabupaten Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih 1 dan 2 (1981), Operasi Gelang 1 dan 2 (1982), Operasi Tumpas (1983-1984), dan Operasi Sapu Bersih (1985). Selanjutnya kekekersan yang ditempuh pemerintah dalam menyelesaikan konflik Papua juga melalui operasi militer yang dilancarkan di Mapenduma (1996), dan peristiwa pelanggaran HAM di Wasior (2001). Kekerasan dan konflik ini masih terus berlangsung yakni operasi militer di Wamena tahun 2003, dan dikabupaten Puncak Jaya tahun 2004 (Neles Tebay: 2015: 1-2). Dalam kurung waktu tahun 2005-2017 juga konflik terjadi ditanah Papua.
Pada 2018-2023 terejadi konflik bersenjata secara berentetan disebagian besar wilayah Papua. Pada tahun 2018 kabutan Nduga dalam proyek jalan, Organisasi Papua Merdeka telah menembak mati para proyek jalan. Selanjutnya terjadi pengiriman militer dan terjadi konflik antara TNI dan OPM. Akibat konflik tersebut, ratusan waraga Nduga meninggalkan kampung halaman, mengungsi kehutan dan di kabupaten lainya. Dalam media BBC News Indonesia yang di rilis pada 5 agustus 2019 bahwa 182 warga meninggal ditempat pengunsian. Selain itu terjadi pengunsian yang besar-besaran. “Berdasrkan temuan tim yang dibentuk pemerintah kabupaten Nduga, para pengungsi berasal dari distrik Mapenduma sebanyak 4. 276 jiwa, distrik Mugi 4.369 Orang dan Distrik Yal 5.021 orang dan distrik Malumu Yalma sebesar 3.775 Orang (https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53593107). Konfik yang sama juga terjadi di Kabupaten Intanjaya. Akibat konflik antara TNI dan OPM telah mengakibatkan korban warga sipil yang meningkat. Banyak masyarkat yang mengunsi kebeberapa wilaya, seperti Kab Nabire, Timika dan Paniai. Baru-baru ini, telah dikabarkan melalui berita jubi bahwa ada seorang siswi yang korban akibat bahan beledak yang diletakan ditengah perkampungan. Dari permasalahan ini, para guru dan semua murid SD Titigi melakukan domonstrasi di kantor Bupati kabupaten Intan Jaya dengan mengutuk Keras kepada pihak yang meletakan bahan peledak di tengah perkampungan.
Selaian kabupaten Nduga dan Intan Jaya terjadi konflik bersenjatah di kabupaten Maibarat, Pengunungan Bintang dan Bintuni. Banyak masyarakat sipil yang meningalkan kampung halaman dan mengusi ke hutan karena kampung halaman dan perumahan mereka dihuni oleh TNI-Polri. Mereka yang masih tetap bertahan di kampung dan tidak mengungsi ke hutan tetap mengalami pengintimidasian, pemukulan dan penyiksanan dari TNI-Porli. Dengan demikian mereka berada dalam tenkanan yang sangat serius.
Akar Konflik di Tanah Papua
Konflik Jakarta-Papua (TNI-PORLI dan Organisasi Papua Merdeka) tidak mungkin terjadi tanpa ada penyebab. Tentu ada penyebab yang menyebabkan persoalan konflik ini muncul. Dengan demikina Lipi bersama jaringan damai Papua telah menemukan empat akar masalah Pokok di tanah Papua. Empat akar masalah pokok ini adalah Sejarah Politik Papua, Pelangaran HAM, Marginalisasi dan Kesejahteraan.
Perbedaan Pendapat dalam Upaya perdamaian
Konflik ini menghadirkan ketidaknyamana bagi masayarakat Papua. Oleh karena konfiik tersebut kehidupan masyarkat menjadi tidak tenag, damai dan tidak memiliki ruang untuk dapat beraktivitas. Pemerinta telah berupaya juga untuk menghadirkan perdamaian itu di tanah Papua. Namun persoalan itu belum juga tuntas terjadi. Hal ini terjadi karena perbedaan pemahaman antara pihak pemerinta dan organisasi Papua Merdeka. Terjadi perbedaan pendapat karena pemerintah menilai konflik ini terjadi karena keterbelakanagan atas ekonomi, kesehatan, pendidikan. Sedangkan hasil pepera adalah sudah final dan tidak ada masalah dengan pertistiwa 1969 itu. Sedangkan OPM menuntut agar persoalan pepera yang tidak bermartabat itu dapat diluruskan kembali agar tidak terjadi konfik berkelanjutan, namun bukan hanya itu OPM menuntut agar Indonesia mengakui kemerdekan Papua secara berdaulat.
Dialog menurut P. Neles Tebay
Dialog dalam bahasa ingris ialah dialogue artinya bercakap-cakap atau berbagi pikiran ide gagasan dengan satu atau lebih dari satu orang. Dari pemahaman ini kita dapat mengerti hakikat daripada dialog. Dengan demikian, dialog selalu berkaitan dengan tukar ide atau pendapat untuk menemukan suatu pengetahuan. Dalam dialog tidak ada konflik fisik yang ada hanya pembicaraan atau percakapan. Atas dasar pemahaman dialog, Pastor Neles Tebay melihat jalan yang tepat untuk menghimpun pihak yang bertikai “Jakarta-Papua” agar dapat dibicarakan dalam ruang dialog.
Konsep dialog yang di angkat oleh pastor Neles muncul dari kebudayaan orang Melanesia pada umumnya dan lebih khusus orang Mee dalam menyelesaikan persoalan tertentu dengan mengunakan jalan dialog. Dalam kebudayaan Melanesia khususnya orang Mee dalam menyelesaiakan persoalan mesti ada tiga pihak. Pihak pertama dan kedua adalah dua belah pihak yang bertikai. Pihak ketiga adalah pihak netal yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan kedua belah pihak yang bertikai.
Dalam menyelesaikan persoalan tersebut, Kedua belah pihak memiliki kemauan bersama untuk duduk bersama dan membicarakan persoalan. Sedangankan Pihak ketiga, memiliki peranan untuk mengali, mencari informasi tentang persoalan mendasar dari kedua belah pihak dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua belah pihak tersebut. Dengan menenukan data, pihak ketiga akan memberikan penilaian dan masukkan atas persoalan mendasar dari kedua belah pihak. Selanjutnya pihak ketiga mengambil keputusan untuk membayar denda sebagi tanda rekonsiliasi dari kedua belah pihak yang bertikai. Dengan demikian persoalan dari kedua belah pihak dapat diatasi dan dapat diselesaikan dengan baik.
Konflik Jakarta-Papua yang telah, sedang dan akan terjadi ini juga Almahrum Pastor Neles Tebay menawarkan untuk menempu melalui jalan dialog. Ia (P. Neles) menawarkan agar ada pihak netral yang memfasilitasi agar persoalan ini dapat terselesaikan dengan baik. Para pastor Papua dan gereja-gereja papua juga berupaya untuk menawarkan konflik ini dapat ditempuh melalui jalan dialog. Dengan jalan dialog kedua belah pihak dapat berbicara dari hati-kehati, tanpa ada kekersan dan korban jiwa.
“Damai” di Papua Harapan Bersama
Konflik selalu menjadi situasi yang sangat mengerikan dalam realitas hidup manusia. Sambil menyerukan dan mendoakan perang antar Isarel dan Hamas agar perang ini dapat diakhiri kita juga menghendaki agar seruan pedamaian di tanah Papua untuk mengakhiri konlfik bersenjata dapat ditangani lebih serius. Oleh Karena konflik tidak memberikan dampak positif dalam kehidupan bersama. Perang dan konflik dapat merugikan banyak pihak. Terutama mereka yang kecil, mereka yang minoritas dan tidak memiliki kekuasaan. Kekerasan dan konflik selalu melahirkan trauma, luka pahit yang sangat menggagu dalam kehidupan bersama. Demi kemanusia dan perdamaian penulis menegaskan kembali agar ruang dialog dapat ditempuh lebih serius oleh pihak yang berwenag. Seruan para pastor dan seruan dari gereja-gereja Papua dapat ditindak lanjuti dengan serius oleh pihak jakata. Tidak hanya sebatas seruan atau diskusi tetapi sunggu-sunggu memiliki hati kemanusiaan yang mulia dan tulus agar konflik ini dapat diakhiri. Tujuanya agar slogan Papua tanah damai tidak hanya terpampang dalam konsep dan tulisan tetapi dapat terealisasi dalam kenyataan hidup bersama. Dan dengan demikian semua yang tinggal diatas Papua mengalami kehidupan yang damai, harmonis tanpa ada kekerasan dan konflik berkepanjangan. Karena kedamaian adalah harapan bersama bagi semua orang.
Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura-Jayapura Papua.
.jpeg)