Ya Tuhanku!

 


             (Ilustrasi by canva+pengungsi di Papua)

 

Cerpen: Ya Tuhanku!

YOGIE

Betul. Kemarin kami diusir pergi dari hujan di padang pegunungan, desa kumbang. Sungguh, saya juga tidak mengerti. Kenapa hujan terus bergemuruh dan memaksa kami tinggalkan rumah, kebun, hutan, dan pemukiman. Sedari mata hari terbit di timur dan terbenang di barat, hujan masih saja mengepun tanah yang menjulang tinggi, tanah adat kami, tanah leluhur, bukit pengungan, desa kumbang (salah satu desa awalnya, tapi mendadak dikotak-kotakan menjadi desa kumbang, kumbang pengunugan, selatan, tenggah, barat, dan daya). Beransur-ansur lama turun hujan, tak pernah surut dan memakan banyak korban yang tak dapat dihitung dengan berapa tangan. 

Di rempang, salah satu kepulauan di negeri konoha. Saya melihat media meliput, rakyat kecil yang berdiri dada dan sedang bersebrangan dengan polisi kopral. Sedangkan bangkal, di kalimantan pokoknya. Saya melihat tadi, ada yang kena bedil, timah aparat menembus dada, menghembuskan uap jiwa dan terkapar di tanah. Ya Tuhan, apalah. Di tanah pegunugan, desa yang saya tinggal pergi, jutaan pula, telah hilang jiwa, sayangnya tak pernah terlihat, ditengelamkan dalam lautan mata manusia, tak terlihat luas. Andai masa luas dapat terekspor, tapi itu tidak pastinya.

Hujan terus turun tanpa pamit, banjir pun melanda luas. Seluru desa bukit pengunugan, perumahan, kebun, satwa, dua belas rumah ibadah dihantam hujan yang menguyur berhari-hari. Sedangkan di desa sebelah terus mendung, menanti-nanti hujan. Dalam kalender kopral berloren, kita siaga saja. Sebelum turun hujan, apapun yang terjadi sikat. di bahas seharian penuh, ada kansas yang perlu diambil dan harus dikotak-kotakan, dalam bahasa mereka meliputi, ndugama, pengubing, yali, migani (itu sebuah tempat). Tapi kemana tua-tua agamais itu, katanya mau menjadi pelita di tengah kegelapan, badai, bahkan hujan peluru. Ada satu yang nampak di pelipur mata, mengenakan jubah putih, namanya, Pak Yan. Tapi yang lain kemana? saat gereja dilanda badai hujan semacam peluru.

Saya sedang berimaji, dalam menagani hujan dasyat yang mematikan ini, apakah saya perlu rakit? Saya ambil saja rakit, tidak ada besi, hanya terbuat dari kayu, rotan, dan sejenisnya. Saya melihat banyak orang mengambil rakitan, tidak penting dengan nasib hidup. Kehidupan adalah keberutungan, sebaliknya kematian.  Saat kehidupan dirundung deras hujan, ya tuhanku, hari-hari saya hilang dalam menampung hujan yang lebat ini, kapan ia bisa menyurut, ini bukan kutukan kan? Saya hampir habiskan seluruh usia disini, menunggu hujan, mendung sekali dan selamanya fajar itu menyising kembali.

Dalam gempuran hujan deras, saya melewati lorong gelap. Saya melihat orang-orang, ada yang menagis karena takut hujan yang sedang mengepung bertubih-tubih, ada yang mati karena dilanda kelaparan hebat. Di jalan kunang-kunang, mayat bergelimpangan, suara-suara tak lagi berkumandang, katanya takut di dengar hujan yang sedang mengepung. Ya tuhan, kenapa saya berada disini, kenapa desa kami di kepung hujan yang dasyat. Apakah, kita ditakdirkan mati terbunuh dari desa kami. Pikir-pikir, hujan akan membunuh setiap suara yang bergemuru, apakah tuhan mengijingkan hujan membunuh? Ya yuhan, ada satu mayat wanita, aku baru saja menyentuhnya, siapa pelakunya?

Di tenggah dasyatnya hujan, saya mengunakan rakitan yang tak sebagus mesin-mesin eropa. Melewati sejuta banjir yang melanda dusun, ada rumah-rumah, kebun-kebun siap di panen juga di lahap habis, miris. Rakitan saya berhenti, tunggu untuk dapatkan cahaya emas, perak, nikel. Sayang, tak ada yang berdegup, rasa-rasa semua tak ada, hilang di ambil orang lain.

Saya mendadak kediginan, menelpon matahari tapi tidak ada respon, ya tuhan. Hujan yang bertahun-tahun lupa pulang telah memakan banyak korban, mungkin saya salah satunya jika waktunya tiba. Sebelumnya, ayah, ibu, kaka, adik, tete, dan nene hampir duluan diregut. Baru keluarga saya, tetanga sebelah, satu lorong, kompleks, bahkan di dusun jumlah tak terhitung, ya tuhan. Tentu saja, pengungsi bertebaran luas di beberapa kawasan, hujan terus bergemuruh tapi kami tak bisa mengungsi, dusun banyak tebing, hujan sedang mengepung. Di lorong, samping pohon cemara, saya melihat orang berlomba-lomba berteduh, semoga hujan tak melihat mereka.

“Jika ibumu ini tak ada suara nanti, barangkali ibumu ini sudah tak ada”. Kata ibuku yang sedang basah kuyut dibawah pohon cemara. Sambunya lagi, “adik-adikmu akan kuburkan aku disini”.

“Ah, kita akan pergi dari sini ibu, belum terlambat”. Sambil saya memeluk ibuku yang sedang kedinginan itu.

“Jika ibumu ini tidak ada, jaga adik-adikmu nak”.

“Bu, saya mau kejar impian diluar dusun, desa kumbang. Ibu saja yang jaga adik-adik ya”

Kamu tega, meninggalkan adik-adikmu, nak.

“Saya mau sekolah yang tinggi, ibu. agar dapat bantu biaya perawatan ibu serta biaya sekolah adik-adik, setelah nanti mengungsi ke kota”.

Di bawah pohon cemara itu, ayah memeluk kedua adik saya yang basah dan takut hujan. Hujan masih  bombardir dusun yang kaya akan sumber daya alam serta cadangan yang lainnya. Saya masih pikir-pikir, misalnya kalau ibu atau ayah di buruh hujan dan meninggal. Dapatkah?  saya dan kedua adik saya akan keluar dari kondisi yang sangat kritis ini. kakek saya, lama tinggal di Holandia. Bukankah saya dapat membawa mereka kesana, tapi kedua adik saya sudah berbaur lama sini, apakah mereka bisa beta disana? Dusun ini memang luput kekurangan, tapi ada bahagia yang tak dapat di utara kan, katanya.

Kemudian, benar saja. Hujan yang ganas bahkan melebihi hujan yang lain datang. Saya melihat, pak Yan sedang mengumpulkan orang-orang yang cedera berdarah-darah berteduh di gedung serba indah dan barangkali menjadi pilihan yang mutlak. Di sebelah sungai, hujan sedang datang berlipat ganda. Ya Tuhan, kemana yang lain, yang bersumpah atas namamu. Sejauh mata memandang, pak Yan mengumpulkan mayat-mayat seorang diri. Sejauh mata memandang, tampak hujan-hujan itu mendekat dan membasmi segala yang bernafas.

Ya tuhan, rakit saya barusan mendadak berhenti. Semoga saya tidak melihat mayat manusia tapi hanya sepotong kayu yang sedang putus asa. Saya meraba-raba, oh ternyata salib gereja yang ujungnya terlepas karena kena hujan kemarin. Bulan-bulanan, saya mendadak kediginan, tapi dingin kali ini agak merendah, semoga saya dapat berlindung di salib itu dan tidur pulas. Malam itu berlalu, hening, bintang-bintang lunlai, ah mata saya tak salah, itu bintang kejora, mata saya masih penuh senyum hingga malam itu berikan ketenagan yang panjang.

Malam berlalu, pagi itu datang. Saya mungkin orang kedua setelah pak yan masih bersama di luar gereja. Di sebrang sungai, hujan mulai turun manuver. Badai-badai itu mulai mengepung dusun, apalah daya. Beribu gelombang air hujan yang turun, merupai tajam biji jarum digoyakan angin-angin gunung hingga menyebar luas membedil pohon cemara yang memaksa untuk gugur sebelum berkembang.

“Ya tuhan, ternyata salib gereja yang kemari jatuh itu, kena bedil hujan yang menyerupai tajam biji jarum. Bagimana, jika menembus manusia? Di tenggah dusun ini, dusun yang telah beruba menjadi dusun mati. Satwa tak lagi berkeliaran, misalnya kuskus dan babi hutan yang dahulu bebas, sekarang pergi entah kemana?”

Di batas semesta, ini. tebang pilih pula melihat kemanusiaan. Sok-sokan, ngotot, merasa jatuh, galang massa, superior, agamais, suci, dan lainnya. Mata memandang jauh, media cetak mengulas, meliput, diberitakan, hingga di ceritakan. Toh, saya ingat dengan tanah Migani dan Yali dua kota yang hilang di pelipur mata. Kendati, saya adalah penganut alkitab yang taat, tapi soal kemanusiaan saya sepakat penuh Palestina harus bebas dari belenggu israel. Bagaimana, soal desa kumbang? Kemanusiaan apa yang sedang kalian perjuangkan, lihatlah kami juga manusia seperti Palestina yang sedang di gempur hujan-hujan israel. “Kata-kata yang mengalir, dalam doa-doa pagi itu, pak Yan”.

“Ibumu, sakit bagaimana? Tanya, pak yan”.

“Saya belum dapat kabar, pak. sudah sebulan kami berpisah. Saya menjawab dengan sedikit kesal”.

Kemudian, saya sambung lagi. “Semoga ibu, ayah, serta kedua adik saya tidak kena musibah yang melanda dusun kita, pak.

“Iya, saya harap begitu. Semoga mereka bisa berlindung secepatnya di gereja, seperti warga lainnya. Balas, pak yan”.

Mula-mula kami hanya santai, duduk-duduk depan teras gereja. Pak Yan, dengan lengkap jubah putihnya mulai dengan kata, “kami sudah dikepung oleh hujan sedari 2018, saat itu bulan desember, natal pula, kami tidak rayakan, kami malah melihat kematian massal. hujan ini belum berakhir pulang, diluar sana tidak ada yang seolah-olah melihatnya. Sudah banyak yang dibunuh, terbunuh dan nahas. Data yang meliput juga tidak detail, belum lengkap, sudah banyak wanita, serta anak-anak hilang ayahnya dan ini betul-betul naif". Kata-kata ini, keluar begitu saja! Dengan menampilkan wajah, dalam duka yang menyelimuti hatinya.

Saya mencoba memahami setiap puing-puing cerita Pak Yan. Ia, Pak Yan sudah siap mati dengan rakyat di dusun. Nyawa sudah sedia pulang bersama setiap orang yang berjalan bersamanya. Saya termengung melihat jauh, ada selaksa peristiwa. Kendati, ibu, ayah dan kedua adik. Bagaimana, jika mereka akan berada di luar sana, apalagi ya, ibu sedang sakit, ayah lagi di buruh, masa depan kedua adik akan kemana? Saya hanya manusia, tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, tahun ku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel