Surat Untuk Guruku di Kota
![]() |
| Foto: Anak-anak di Kampung. Ist. |
Oleh: Sesilius Kegou
Bapak guru, surat kecil ini sengaja aku tulis dari sini, di tengah-tengah hamparan rerumputan hijau yang kini menjadi rerumputan liar, tepat depan ruang guru, samping taman kecil yang dulu kita buat itu kini sudah menjadi pepohonan dengan rindang-rindang perkasa.
Pak guru, sudah lima tahun, pintu-pintu Sekolah tak kunjung buka seperti kala dulu, pintu-pintu bercat coklat motif putih itu terlihat tutup rapi hingga sarang laba-laba menjadi security sekitar setiap bingkai pintu dan jendela-jendela sekolah ini. Sunyi sekali.
Pak guru, Berulang kali aku datang, datang melalui surat yang sama, bahwa aku dan anak-anak lain di kampung kita seolah piara buta, buta baca dan hitung. Hanya memahami baca dan hitung sudah menjadi dasar memerdekakan diri bagi kami, seterusnya kami menjadi pesaing dunia.
Pak guru, di ruang kelas satu dan dua, kini menjadi tempat bermain kawanan babi milik warga, pintu sudah dobrak, papan lantai sebagian rapuh, sama juga dengan ruang kelas enam, banyak temui sarang laba-laba dan lebah.
Trus, beri tahu pak Guru Jhon lagi, kalau penggaris kayu panjang yang kadang menjadi santapan kami kala pagi bila terlambat itu masih terawat di atas mejanya. Bilang pada dia bahwa kami rindu marahnya, kami rindu sakitnya pukulan pakai penggaris itu lagi.
Dan pak guru, rotanmu juga ada di sini, sebelum saya tulis surat ini, saya amati dulu rotan itu, bahwa pak guru bilang, "di ujung rotan ada emas". Tapi kini nasehatmu tinggal kenangan, hanya menjadi harapan belaka. Dimana emas itu. Kami sadar, emas yang kami impikan itu hanya ada padamu, bila pak guru tak kunjung datang, emas itu milik orang lain. Pak guru membuat kami menaruh harapan palsu saja. Kata-katamu membuat kami sakit hati, sementara orang-orang kota dan anak-anakmu bersekolah di Sekolah berfasilitas layak dengan guru lengkap, beda dengan disini, pak guru, disini kami semua seperti anak liar, bahkan yatim. Semoga pak guru betul-betul memahami hal ini.
Oh ya, satu lagi pak guru, perumahan guru itu, masih terawat, setiap bulan kami, anak-anak selalu bersihkan, jadi jangan khawatir ee... Frans, yang dulu di kelas lima itu sebagai pengarah, usai kerja dia biasa ajar kami baca dan hitung, saya sedih melihatnya, tentu toh pak guru, dia punya keinginan jadi guru. Seperti kau pak guru, nantinya Frans bisa berdiri tegak depan kelas dengan rotan dan sepatu hitam, berkacamata, berpeci, bertopi tut wuri handayani, rapi, keras, ramah.
Berta dan Meri juga sama, mereka beri obat, tapi obat alami, rumput dikunyah lalu oles di luka bila kami terluka. Ada juga yang lain, seperti Bentus, Eman, Agus, mereka suka diskusi tentang pendidikan dengan pemahaman mereka. Jadi sebenarnya kami mampu, pak guru wee, kami mampu.
Pulanglah, pak guru saat baca surat ini, jangan ingat suasana Sekolah sebersih dulu, jangan bayangkan buku-buku ajar masih terjaga, jangan pikir pagar Sekolah yang dulu kokoh. Semuanya sudah berbeda, berbeda sekali.
Pak Guru, sebenarnya kami sayang sama pak guru, rindu sama paguru, rindu emas itu, tapi mengapa guru masih tetap memilih di kota sana. Kami tahu, pak guru sudah menjadi terbiasa dengan instan, sosial media, rumah bagus, ada motor dan mobil toh, pak guru juga tentu duduk diatas sofa, beda dengan disini di kursi kayu. Mungkin pak guru sudah lupa tentang kami. Tapi pak guru, setiap jasa akan diperhitungkan, apalagi menjadi guru di pedalaman sini, amat keras dan berani. Itu pekerjaan diperhitungkan Tuhan.
Tahu to pak guru, masyarakat disini amat baik sama pak guru, apa yang mereka makan, itu juga pak guru makan toh. Satu bungkus garam atau sebotol minyak goreng juga mereka berbagi. Apalagi seperti saat ini, Natal semakin dekat, masyarakat berharap pak guru dan Pak guru Jhon datang, jadi harus datang walau nantinya kembali ke kota. Mari datang sudah pak guru, datang ajar kami.
Pak guru, banyak yang saya mau tulis, tapi kertas hanya selembar itu juga saya ambil di bawah Serambi Sekolah dekat kelas tiga, samping tiang lonceng yang kini menjadi lonceng hampa yang kadang aku benci antara rindu. Seperti itu saja dulu pak guru. Selamat hari guru (25/11/2023).
Negeri di atas awan, 15 November 2023
An. Siswa SD Mano.
TTD
Marselina Kegou
)* Penulis adalah Jurnalis Papua.
