Sepucuk surat untuk Tuhan



Aku bukanlah pendoa, pengusir iblis dari jiwa-jiwa yang rapuh.Bukan juga Malaikat, pemberi kabar gembira. Aku hanyalah seorang pencari jalan, dari gumpalan cinta yang hilang.

Pada alam, aku bertahpa mengabadikan momen paling seru.Pada bulan pun ku mengadu tentang goresan jiwa yang hampir sirna.

Sementara tubuhku terkunjang sirna oleh takdir, hanya menyisakan secangkir genangan bersama sisa-sisa angan. Aku pernah merajuk kepada takdir, mengemis, meminta kesempatan kepada sang pencipta, agar aku tetap hidup.

Tapi itu tak mungkin..! tidak ada tawaran untuk menolak duka, ada hanya melekrut bernyanyi ambulans yang kian terdengar akan hilangnya tuntas -tunas muda. 

Aku pernah merajuk kepada takdir, mengemis, meminta kesempatan kepada sang pencipta,agar aku tetap hidup. Tapi itu tak mungkin!" tidak ada tawaran untuk menolak duka, yang ada hanya  sekotak mawar yang menunggu bertunas, Dan bertumbuh mekar. 

Sementara tubuhku terkunjang sirna oleh takdir,hanya menyisakan secangkir genangan, bersama sisa-sisa angan.Lalu kepada siapa aku meminta semangkok rasa simpati, sedangkan para malaikat diam membisu di puncak cakrawala.

Wahai diri yang hanya berharta putus asa, sampaikan goresan-goresan ini pada butir-butir air mata, agar tunas-tunas muda berkembang seperti pasir pinggir pantai.Yang terhormat, Tuhan ku, sepecuk surat penuh permintaan, Cukup yang lalu, berikan yang baru,

Hingga tumbuhlah emas mudah.Kumohon Kabulkanlah, Semoga akan sampai di meja perpustakaan mu. Tuhan, Jika Engkau Mencintaiku Aku Harus tahu.


Hotel internasional tewei, 9 November 2023

Oleh Jiwa perindu melky

Previous article
Next article

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel