lingkungan
LINGKUNGAN SOSIAL
TANAH PAPUA
Bersatulah Pemuda Papua, Jaga Wilayah Adat, Wujudkan Pemilu Tanpa Oligarki
Sabtu, 28 Oktober 2023
![]() |
| (foto pemuda di jayapura saat memperingati hari suumpah pemuda yang 95 tahun Katuaitv) |
95 Tahun
Peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2023. Dalam sejarah perjuangan bangsa
Indonesia, Semangat Sumpah Pemuda memiliki peranan yang sangat penting. Pada tanggal
28 Oktober 1928, pemuda Indonesia dari berbagai daerah, latar belakang etnis,
agama, dan budaya, berkumpul di Jakarta untuk menyatakan tekad dalam
memperjuangkan cita-cita Persatuan Indonesia. Semangat inilah yang menjadi
tonggak pergerakan nasional dan menginspirasi generasi muda Indonesia. Namun,
di tengah Semangat Sumpah Pemuda yang masih membara, terdapat situasi kerusakan
ekologis yang perlu mendapatkan perhatian oleh semua pihak, baik diregional,
nasional dan internasional.
Menjelang tahun politik 2024, sistem politik
Indonesia juga menghadapi masalah serius yaitu dominasi oligarki. Oligarki
dapat didefinisikan sebagai pengendalian kekuasaan politik dan ekonomi yang
terpusat di tangan sekelompok individu atau kelompok kecil yang kaya dan berkuasa.
Keberadaan oligarki dalam sistem politik Indonesia menghambat demokratisasi
yang sebenarnya dan mengekang keadilan sosial dan ekonomi. Bahkan para calon
presiden dan wakil presiden 2024 ditengarai “digenggam” oleh kuasa oligarki.
Pemilu tanpa oligarki adalah cita-cita yang harus kita perjuangkan, di mana
setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam
politik tanpa adanya intervensi kekuasaan ekonomi yang dominan. Oligarki,
selain menghambat partisipasi publik yang sehat, juga mengaburkan suara rakyat
dalam mempengaruhi kebijakan publik dan mengurangi akuntabilitas para pemimpin
politik.
Oligarki telah menghasilkan UU Cipta Kerja yang hanya bermanfaat bagi
kelompok 1% (oligarki) bukan bagi 99% (rakyat). Melawan oligarki bukanlah tugas
yang mudah, namun memang sudah saatnya kita menuntut reformasi politik yang
lebih inklusif dan demokratis. Partisipasi pemuda dalam proses politik, seperti
pemilihan umum, sangat penting untuk menghasilkan perubahan dan memperjuangkan
pemilu tanpa oligarki. Pemilu 2024 berlangsung di tengah krisis iklim yang
semakin nyata. Bencana hidrometeorologi dirasakan oleh masyarakat akibat dari
krisis iklim. Diperlukan komitmen yang kuat dari para pemimpin masa depan untuk
secara serius dan ambisius mengambil langkah konkrit penanganan krisis iklim.
Komitmen serius ini hanya ditempuh apabila para calon pemimpin melepaskan diri
dari jeratan oligarki1 . Krisis iklim akibat peningkatan suhu bumi yang kini
mencapai 1,2 derajat dalam 100 tahun terakhir, telah memicu bencana
hidrometeoroligis (kering dan basah) yang mengancam keanekaragaman hayati dan
kehidupan manusia. Krisis iklim juga menjadi ancaman serius bagi Tanah Papua.
Dilaporkan sebanyak 24 orang meninggal akibat gagal panen karena cuaca ekstrim
di Distrik Amuma, Yahukimo.
Sayangnya krisis iklim minim mendapatkan
perhatian serius dari pemerintah daerah, pusat dan bahkan kepala negara di
dunia yang terkesan abai 1
https://act.seasia.greenpeace.org/id/indonesia-tanpa-oligarki 2
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cv207n5y9pdo dengan situasi saat ini ,
apabila suhu bumi mencapai 1,5 derajat celcius atau lebih, maka bisa dipastikan
semua mahluk diambang “kepunahan”. Pada bulan November 2023 yang akan datang ,
akan dilaksanakan Conference of the Parties (COP) ke 28 atau Konferensi Para
Pihak anggota The United Nations Framework Convention on Climate Change
(UNFCCC) di Dubai, Uni Emirat Arab. Konferensi Tingkat Tinggi bidang Perubahan
Iklim itu menjadi momentum penting untuk meningkatkan upaya pengendalian dan
komitmen pemimpin dunia aar peningkatan suhu bumi global tidak mencapai 1,5
derajat celcius atau lebih. Pada laporan dengan judul ‘Stop Baku Tipu’; Sisi
Gelap Perizinan di Tanah Papua. mengungkap dugaan pelanggaran sistematis
perizinan perkebunan dan pelepasan kawasan hutan di provinsi Papua dalam
rentang 2011-2019. Hampir satu juta hektare hutan di Provinsi Papua telah
dilepaskan dari kawasan hutan sejak tahun 2000, atau hampir dua kali luas pulau
Bali. Sebagian besar pelepasan tersebut untuk kepentingan pengembangan
perkebunan kelapa sawit. Hingga 2019, berdasarkan analisis CIFOR telah ada
seluas 168.471 hektar hutan alam di Provinsi Papua yang dikonversi menjadi
perkebunan sawit. Jumlah ini akan terus bertambah seiring bertambahnya
pelepasan kawasan hutan dan izin perkebuna
Padahal seperti kita ketahui
hutan alam sangat berarti bagi masyarakat adat Papua, mereka menyebutnya
sebagai “apotik alami”, “supermarket” dan “ATM” . Hutan Alam di Tanah Papua
merupakan hutan alam terluas yang tersisa di Indonesia, kini mendapatkan
ancaman deforestasi Berdasarkan uraian diatas, maka kami menyatakan sikap :
1.
Mendesak para capres-cawapres memiliki komitmen yang serius dan konkret untuk
berpihak pada rakyat dan melepaskan diri dari agenda oligarki. Sudah cukup dampak
buruk yang dirasakan rakyat akibat menguatnya kekuatan ekonomi-politik oligarki
di Indonesia. Tunjukkan komitmen dalam dokumen visi-misi yang diserahkan ke KPU
RI.
2. Menyerukan kepada para pemuda, bahwa satu-satunya cara untuk melepaskan
diri dari cengkraman oligarki dan menyelamatkan lingkungan adalah dengan
membangun ulang Indonesia melalui aksi dan solusi yang efektif.
3. Menyerukan
kepada pemuda untuk memperkuat kapasitas dan menumbuhkan semangat dan kesadaran
lingkungan yang tinggi, untuk menjadi agen perubahan dalam penyelamatan
lingkungan. Serta membentuk sebuah ekosistem pada generasi muda yang memiliki
perspektif untuk menjaga lingkungan hidup.
4. Menuntut pemerintah pusat dan
provinsi diseluruh Tanah Papua untuk segera mereview dan mencabut seluruh ijin
perkebunan sawit, tambang dan HPH di Tanah Papua yang bermasalah, merampas
ruang hidup masyarakat adat Papuamenimbulkan pelanggaran HAM dan memicu
deforestasi di Tanah Papua. Menyelamatkan Hutan Alam di Tanah Papua harus
menjadi prioritas , karena hutan alam Tanah Papua adalah Benteng Krisis Iklim.
5. Menuntut pemerintah pusat dan DPR RI untuk segera membahas dan mengesahkan
Rancangan Undang-undang (RUU) masyarakat adat sehingga ada instrument hukum
yang memastikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak masyarakat adat serta adanya landasan hukum yang mengikat antara negara, investasi dan masyarakat
adat untuk memastikan interaksi dan praktik antarketiganya didasarkan pada Hak
Asasi Manusia.
6. Menyerukan dan mengingatkan kepada seluruh pemimpin di dunia
di COP28, bahwa menjadi penting berkomitmen mengurangi emisi karbon, karena
emisi karbon semakin meningkatkan suhu bumi naik hingga 1,5 derajat celcius,
maka diproyeksika akan berdampak kepada banyak hilangnya keanekaragaman hayati
dan kepunahan massal yang mengancam semua kehidupan di muka bumi.
Admin Katuaitv.com
Previous article
Next article
.jpeg)