Mutiara Papua
Puluhan tahun berlalu,
Dalam dentuman bedil,
Air mata darah tercurah,
Badai dashyat ditempunya,
Derita yang tiada ujung,
Dalam kerahimanNya,
Mutiara itu dibentuklah.
Mutiara itu berharga,
Siapkan hati ‘tuk menerimanya,
Satu hati satu jiwa siapkan jalanNya,
Bukan mendua hati jiwa,
Saling mengasihi sesama,
Bukan saling mendendam,
'Tuk meraih barang itu.
Mutiara itu berharga,
Pada siapa itu diberikan,
Adalah hak mutlakNya,
Tampak luar tak dilihatNya,
Dilihat relung hatiNya,
Rencana dunia bukan rencanaNya,
Rencana Tuhan bukan rencana dunia.
Mutiara itu berharga,
Berguna bagi para pilihanNya,
Tak semua ‘kan menikmati,
Punya caraNya ‘tuk dipisahkan,
Yang berkenanNya dibiarkan,
Tuk menikmati mutiara itu,
Bersama para pilihanNya.
Mutiara itu paling mulia,
Tuhan punya rencana,
Tuhan punya waktu,
Bukan waktu manusia,
Berharap padaNya,
Bukan harap pada dunia,
Pada saatNya terjadilah.
Mutiara itu paling mulia,
Iman dimatangkan ‘tuk terimanya,
Dalam cobaan iman dimurnikan,
Bagai emas dibakar dalam perapian,
Yang hancur luluh tak ‘kan sampai,
Di Eden Papua penuh susu madu,
Yang lulus ujian ‘kan menikmatinya.
Penyair
Selpius Bobii, Koordinator JDRP2 // Jayapura: Minggu, 20 Agustus 2023 //
